Bab 5 Ardito Bermain Panas

993 Kata
Sialan, hari ini benar-benar sangat menyebalkan dan semuanya gara-gara suami arogan yang tidak berperasaan itu. Kalian tahu apa yang sudah aku lakukan dengan dia? Sekelebat bayangan ketika Dito yang kurang ajar itu menyentuh bibirku dengan tiba-tiba membuatku kesal. Bahkan sialnya, tubuhku tidak bisa menolak ketika setiap inci bibirnya itu menyentuh tubuhku. "Ah sialan, kenapa pikiran m***m itu muncul," umpatku kesal sambil memukul kepala. Aku datang ke kantor pagi-pagi sekali. Dia tidak ingin bertemu dengan pria berengsek dan juga arogan yang telah mencuri sesuatu yang sangat berharga pada diriku. Aku bersumpah tidak akan memaafkan laki-laki itu lagi nantinya. Aku sangatlah membenci laki-laki itu dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Kakiku terasa sangat perih dan terpaksa harus mengunakan shal untuk menutupi lehernya yang memerah bekas gigitan pria arogan sekaligus berengsek. Sial, kenapa semuanya begitu sangat rumit. Bahkan hidupnya kini terlihat sangat hancur lebur. Lebih baik dia mulai bekerja sekarang karena banyak sekali berkas yang berantakan dan belum dia periksa. Sampai mataku melihat sosok yang memang tengah aku rindukan sekarang. Siapa lagi kalau bukan Gita. Wanita itu datang padaku sambil tersenyum manis. "Tumben nih Bu bos sudah datang jam segini, biasanya juga suka datang telat," ledeknya padanya. Sebenernya aku sengaja datang pagi agar tidak bertemu dengan Dito. Tentu saja aku merasa canggung dan malu karena sudah melakukan sesuatu semalam. Lagi-lagi otakku memikirkan hal m***m yang sudah terjadi antara aku dengan Dito semalam. "Jangan panggil aku dengan itu," kesal ku memutar bola matanya jengah. Semua orang tahu kalau diriku adalah istri dari seorang bos yang manjadi pemimpin di perusahaan ini. Namun, aku tampak biasa saja tidak tertarik sama sekali dengan sebutan itu. Apa gunanya sebuah sebutan itu jika aku diturunkan jabatan dari sekertaris jadi karyawan biasa. Beruntung ada Gita yang jadi teman baikku. Karyawan yang lain malah menganggap diriku rendah dan tidak disukai oleh bos. "Cie malah melamun. Jangan bilang kalau memang benar yah, semalam kamu sudah ML sama Pak Dito?" tebak Gita. Mataku langsung melotot tajam, benar-benar tidak menyangka kalau Gita akan mengatakan itu. Seolah dia tahu apa yang aku lakukan semalam dengan Dito. "Jangan berpikir m***m! Mana ada kaya gitu!" umpatku kesal. Tetapi Gita malah memiringkan wajahnya padaku dan dia langsung tertuju pada shal yang aku gunakan. "Tidak usah berbohong padaku, buktinya sekarang kamu pakai shal kan? Apa kamu tahu artinya itu? Kamu tengah menutupi sesuatu." Sialan Gita. Dia memang wanita yang sangat peka. Aku merasa malu karena dia bisa tahu semuanya. Bahkan aku juga tidak menyangka dengan hal ini. "Diam Gita!" marahku karena malu. Sedangkan Gita yang mendengar itu malah tertawa dengan puas. "Hahah jadi benar yah tebakan aku? Kalian habis melakukan hubungan itu? Ciee sudah ada peningkatan sekarang." "Sudah Gita, jangan meledek, gak akan ada peningkatan antara hubungan aku dengan dia!" ketusku dengan kesal. Gita akhirnya kembali duduk dan dia mengerjakan sesuatu setelah meledek ku tadi. Sialan, Dito. Dia sudah membuat aku merasa malu. Dia harus bertanggungjawab sekarang. Aku memukuli kepala yang membayangkan kejadian semalam hingga dia tidak sadar kalau ada yang memperhatikan dan tersenyum karena melihat tingkahku yang terkesan sangat lucu. "Ekhem." Mendengar suara deheman, membuatku yang tadinya sedang fokus pada layar laptop kini beralih pada orang yang berdehem itu. Setalah mengetahui siapa orangnya lantas Aku memalingkan wajah. "Dih, ngapain sih ke sini!" kataku dengan ketus. "Amira, kamu ke ruanganku sekarang!" Setelah mengatakan itu, Pria Arogan itu langsung pergi begitu saja. Rasanya sedikit kesal ketika melihat tingkah lakunya tersebut. Bisa-bisanya dia jadi seperti ini sekarang. "Aduh disamperin Pak Bos itu. Disuruh ke ruangannya," goda Gita dengan sedikit berani. "Alah paling juga nanti disuruh ngepel lagi ruangannya Pak Bos," celetuk Cika. Aku tahu Cika memang tidak suka denganku. Terlebih setelah Pak Luky yang milihku untuk menikah dengan Dito. Dia masih saja sinis dan menatapku seperti itu. "Buruan gih sebelum Pak Bos marah sama kamu, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Cika." Gita mengingatkanku karena sudah tahu hubunganku dengan Dito seperti apa. Yah, hampir mirip seperti tikus dan juga kucing selalu berantem dan juga tidak pernah akur. "Baiklah kalau begitu aku akan pergi kesan." Aku akhirnya memilih untuk pergi ke dalam ruangan Dito. Pasti laki-laki itu akan menyuruhku macam-macam lagi dan mempermalukan diri. Awas kalau sampai itu terjadi. Dia akan menuntut balas dendam nanti. Menyebalkan sekali, awas saja kalau dia sampai akan melakukan sesuatu. Akhirnya tanpa menunggu waktu lama, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tempat di mana Dito berada. Kalau bisa aku akan meminta kompensasi atas apa yang terjadi kemarin, dia yang tidak sadar mabuk, tetapi aku yang kena imbasnya. "Permisi." "Masuk." Seketika atmosfer berasa berubah ketika aku masuk ke dalam ruangan ini. Aku melihat Dito yang kini tengah masuk dengan berkasnya. Lalu untuk apa dia menyuruh aku masuk ke dalam ruangan ini. "Ada yang bisa saya bantu Pak? Kenapa Pak Dito memanggil saya?" Aku sengaja berkata formal dengan beliau. Tentu saja karena aku sadar dari kalau ini adalah kantor. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. "Kenapa tadi kamu berangkat duluan?" "Memangnya salah kalau saya berangkat duluan, lagian memangnya kenapa kalau saya berangkat duluan? Kita juga gak pernah berangkat bareng bukan," kataku berusaha untuk santai. Tentu saja aku tidak mau membuat Dito merasa malu. Aku sudah mengatur semuanya dengan baik sekarang. "Kamu canggung karena mengingat apa yang terjadi semalam?" tanya Dito. Astaga, pria arogan ini. Malah membahas hal ini di kantor. Sudah tahu dia alasannya karena apa. Malah tanya kembali seperti ini. "Iya, tentu saja. Kamu laki-laki berengsek. Jangan pernah mabuk seperti itu lagi," ancam ku. Dito yang mendengar itu pun langsung tersenyum tipis. Dia seperti tahu apa yang tengah aku pikirkan sekarang. "Baiklah, lagian bukannya semalam juga kamu terlihat menikmatinya." "Kamu!" Aku kesal karena dia malah menggodaku dengan senyuman mengejeknya. Aku menikmati sentuhan itu? Yang benar saja? Tidak mungkin juga seperti itu. "Tidak yah. Kamu jangan mengarang!" "Masa? Tetapi aku dengar sendiri tuh. Sayang sekali yah. Aku tidak merekam suaramu itu," godanya yang membuatku jengkel. "Kamu berani merekamku, awas saja!" ancamku kesal. "Bagaimana kalau kita mengulangi lagi?" godanya yang membuatku melotot tajam. Aku menghentakan kaki dengan kesal. "Dasar gila!" BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN