“Wuuuu…” Seru Nathaniel Tirto begitu semangat. Si kecil bahkan tak merasa ketakutan ketika mobil secara kasar berbelok demi mengikuti Darmanto. “encengiiin!” teriaknya meminta supir Taksi untuk menambah kecepatan. Hanggono terkekeh. Ia duduk santai, bersandarkan kepala jok mobil sembari memperhatikan keceriaan putra satu-satunya. Jika Hanggono pikir-pikir, setelah dewasa nanti sepertinya Niel cocok menjadi seorang pembalap. Anaknya itu tidak pernah takut dengan kecepatan. “Pak.. Mobil depan sepertinya akan menuju Tirto Grup. Apakah kita ikuti sampai ke sana?” Memang akan kemana lagi. “Ya, ikuti saja Pak,” jawab Hanggono seadanya. “Papa yun.. Aca..Aca…” Niel meminta Hanggono untuk menurunkan kaca. lalu mengeluarkan kepala, berteriak pada mobil di depannya. “Mantoooo!!!”, jerit Niel h

