Resti dan Niel duduk berdampingan. Kedua anak itu saling diam, tak mau memperdulikan kedua orang tuanya yang sedari tadi berbicara. “Mas sampai berbusa itu mulut, dua anak kita ini bakalan tetep jadi malin kundang.” Nggak salah dong perumpamaan Amel? Semua anak durhaka di Indonesia pasti akan dikatain Malin Kundang. Mana mungkin Malin-Malin yang lain. Nggak mungkin! Bisik-bisik mulai terdengar. Niel, si kecil yang lain pada generasi teranyar tentu tak mengetahui apa itu Malin Kundang. Ia bertanya pelan pada Resti. Apa gerangan yang dimaksud sang mamah. “Ehem.. Malin itu anak Mamah yang nakal terus, huwala! Magic! Dia berubah jadi batu.” Mata Niel berbinar. Seperti kebanyakan anak kecil lainnya, ia selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Apalagi pada kalimat yang b

