170

1135 Kata

Sukmana Tirto tak tahu harus melakukan apa. Ketika matanya terbuka seluruh manusia di ruang rawatnya menangis- kecuali Bumi, Alex dan Hasan. Sukma yakin jika ketiga pria itu pasti tidak sesentimentil Darmanto. Apalagi Hanggono anaknya. Sudah lima belas menit dan tangis mereka justru terdengar lebih keras dari sebelumnya. Sumpah bahkan sampai lelah menayakan sebab dibalik air mata anak dan para cucunya.   “Sarah.. Kenapa kamu juga ikut-ikutan. Siapa yang saya bisa minta tolong kalau kerjaan kamu cuma nangis aja dari tadi.” Kesal Sukma. Bentuk luapan emosi itu ternyata membuat Hanggono bangkit dari kursinya. Mereka berada pada rentang jarak yang sangat dekat, tapi Hanggono hanya terus menangis saja tanpa melakukan apa-apa. “Ibu butuh apa?! Hang yang ambilkan. Minum Bu?” Sukma mendoron

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN