“Ap-pa?!” tanya Amel terbata. Tangan ibu tiga anak itu terangkat. Telapaknya mengadah dengan tiga jari bawah terlipat, sembari bergerak kala dirinya meminta kejelasan akan nasib pada putra bungsunya. “Gimana, Mas, gimana?!” tuntut Amel. “Biar aja Mas Niel bilang?” Sialnya, si kecil memang tak pernah merasa terintimidasi kecuali pada saat diputuskan para kekasihnya, justru mengangguk tanpa dosa di gendongan sang papa. Kontan saja hal ini membuat pundak tegap Amel meluruh. Ia bahkan sampai membungkuk karena saking lemasnya. Fix, Niel bukan lagi Buaya Rawa tapi Si Anak Durhaka. “Papa silakan pulang. Mama siap mengabdi padamu,” lirih Amel lalu membalikkan diri untuk duduk di kursi kebesarannya. Hohoho.. Tidak bisa dibiarkan. Sebagai suami yang sangat mencintai Amel tentu saja Hangg

