Arhan mematung di tepi jendela, memandang kosong ke arah langit yang mulai meredup. Warna jingga yang dulu selalu ia nikmati kini terasa asing, seolah tak lagi punya tempat untuknya. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tak kasat mata—penyesalan yang datang terlambat. Ia kecewa. Bukan pada siapa pun, melainkan pada dirinya sendiri. Arhan tidak bisa menyalahkan keadaan. Tidak juga pada waktu. Apalagi pada Kayra. Semua ini adalah hasil dari pilihannya. Kayra sudah memberinya kesempatan. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Dengan sabar. Dengan diam. Dengan cara yang bahkan sering tidak Arhan sadari. Kayra tidak pernah menuntut dengan suara keras, tidak pernah memaksa dengan air mata yang dipertontonkan. Perempuan itu hanya bertahan… dan menunggu. Namun justru itulah kesalahan terbesar Arhan. Ia
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


