bab 45

1699 Kata

Arhan mematung di tepi jendela, memandang kosong ke arah langit yang mulai meredup. Warna jingga yang dulu selalu ia nikmati kini terasa asing, seolah tak lagi punya tempat untuknya. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tak kasat mata—penyesalan yang datang terlambat. Ia kecewa. Bukan pada siapa pun, melainkan pada dirinya sendiri. Arhan tidak bisa menyalahkan keadaan. Tidak juga pada waktu. Apalagi pada Kayra. Semua ini adalah hasil dari pilihannya. Kayra sudah memberinya kesempatan. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Dengan sabar. Dengan diam. Dengan cara yang bahkan sering tidak Arhan sadari. Kayra tidak pernah menuntut dengan suara keras, tidak pernah memaksa dengan air mata yang dipertontonkan. Perempuan itu hanya bertahan… dan menunggu. Namun justru itulah kesalahan terbesar Arhan. Ia

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN