Bab 42

1979 Kata

Degup jantung Arhan mulai tidak karuan, berdentum di balik rongga dadanya seperti genderang perang yang siap pecah. Genggaman tangan Kayra pun semakin kuat, kuku-kukunya sedikit menekan kulit Arhan seolah ingin menyalurkan seluruh ketegangan yang juga merambati syaraf-syarafnya. Dingin telapak tangan Kayra menjadi bukti bahwa gadis itu pun sedang tidak baik-baik saja. ​Saat daun pintu jati besar itu terbuka perlahan, pemandangan di hadapan mereka membuat napas Arhan tertahan di tenggorokan. Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah yang luas itu. Bukan hanya orang tua Kayra, tapi juga paman, bibi, dan yang paling mengejutkan: Oma Kayra. Wanita tua itu duduk dengan anggun namun kaku di kursi kebesarannya, tatapannya tajam menyapu setiap inci keberadaan Arhan. ​Suasana hening seketika. R

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN