Kayra menatap ragu ponselnya hendak menghubungi Arhan. Iya, ia akan menghubungi lelaki itu setelah nyaris sepuluh hari lamanya mengabaikan segala bentuk komunikasi. Kayra tidak menerima panggilan atau membalas pesan singkat lelaki itu, mengabaikannya sebagai bentuk kekecewaan yang dirasakannya saat ini. Tapi hari ini, Kayra akan memberanikan diri untuk menghubunginya terlebih dahulu, untuk mengajaknya bertemu. Nyaris lima belas menit lamanya Kayra menimbang dengan ragu, akhir ia menekan tombol hijau dan panggilan pun terhubung. “Halo, Kay!” Sangat cepat, hanya beberapa detik saja Kayra sudah mendengar suara itu. Suara yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang, berdesir hangat keseluruh tubuhnya. Masih ada sakit di sana, di tengah-tengah hatinya Tapi tidak dapat dipungkiri b

