Perjalanan menuju villa memakan waktu hampir empat jam. Jalanan mulai menyempit ketika mereka memasuki kawasan pegunungan. Udara berubah lebih dingin, pepohonan tinggi berdiri rapat di kanan-kiri jalan, dan suara kota perlahan menghilang. Kayra menyandarkan kepala di bahu Arhan selama perjalanan, matanya terpejam setengah. Arhan sesekali melirik istrinya. Ada ketenangan yang jarang ia lihat akhir-akhir ini. Pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih. Villa itu berdiri sendiri di tengah hamparan hijau. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi hangat—dengan dinding kayu, jendela-jendela lebar, dan teras yang langsung menghadap lembah. Begitu mobil berhenti, Kayra turun lebih dulu, menghirup udara dalam-dalam. “Tenang banget,” gumamnya. “Aku kangen suasana kayak gini.” A

