Arbain menggebrak meja, menghentikan perdebatan kedua anaknya. Ia menatap jengkel pada anak tertuanya. Sudah berumur cukup matang, tapi menolak untuk menikah. Tidak suka bekerja di kantor, dan selalu berbuat semaunya, termasuk dengan gaya hidupnya yang serampangan. Anak perempuannya memang harus didisiplinkan. “Yang kamu bilang bukan urusanmu, sudah membiayai gaya hidupmu. Kamu pikir dengan menjadi fashion design, cukup untuk membeli mobil, sewa kantor, beli apartemenmu itu, hah!” Lucinta mencebik. “Aku sedang berusaha, Papa.” “Berusaha apa? Ingin membuatku terkena serangan jantung? Kamu sudah bukan anak kecil lagi, Lucinta. Orang tua sedang kesusahan kamu malah mengejek!” Lina mengusap punggung suaminya. “Pa, tenaaang. Jangan mengamuk.” Arbain menatap istrinya dengan pandangan tidak

