Alister duduk dengan hati yang cemas di samping ranjang pasien, matanya tak lepas dari sosok Elaina yang terbaring lemah. Tubuhnya terbungkus perban putih, wajahnya tampak pucat, namun tetap cantik meski dalam keadaan seperti ini. Tangan Alister menggenggam erat tangan Elaina, seolah berusaha memberikan kekuatan dan kehangatan yang ia tahu gadis itu butuhkan. Meski terasa berat, ia mencoba menenangkan diri, merasakan denyut nadi Elaina yang perlahan kembali stabil. Baru saja dokter selesai melakukan operasi untuk mengatasi luka-luka yang diderita Elaina, memberikan jahitan pada beberapa bagian tubuhnya yang terluka. Meskipun tidak ada luka yang terlalu berat atau mengancam nyawa, namun melihat Elaina dalam keadaan seperti ini, dengan perban di sekujur tubuhnya, membuat hati Alister terasa

