BAB 8

1283 Kata
Elaina terdiam sejenak, mulutnya terbuka lalu terdengar dengkusan pelan yang masih bisa ditangkap oleh telinga. Ia ingin membantah ucapan Alister, tetapi kemudian menyadari bahwa hal itu hanya akan menunjukkan kesombongan. Apa yang dikatakan Alister memang benar, dan faktanya terlihat jelas di depan mata. Alister adalah laki-laki yang tampan dan menawan. Elaina tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan itu. Ia tahu, akan menjadi kebohongan jika ia berkata bahwa Alister tidak menarik. Setiap gerak tubuh dan tatapan mata laki-laki itu memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Dalam hati, Elaina yakin bahwa Alister mampu membuat perempuan manapun menoleh dua kali ketika berpapasan dengannya. Penampilan dan sikapnya meninggalkan kesan kuat. Elaina tidak bisa menyangkal bahwa dirinya pun merasakan hal yang sama. Ia hanya bisa menerima kenyataan bahwa daya tarik Alister begitu nyata dan sulit untuk dihindari. “Pak, narsis sekali. Memang sih itu fakta kalau anda menarik, tapia pa harus diperjelas begitu!” Alister tertawa lirih mendengar ocehan gadis di hadapannya ini. “Elaina, aku harus ke kantor. Boss besarku datang hari ini. Kamu simpan nomorku, telepon aku kalau kamu sudah berpikir matang.” Elaina mengangguk. “Pak, itu, tentang pekerjaanku.” “Iya, kenapa dengan pekerjaanmu?” “Apa Bapak sudah tahu kalau aku seorang Bartender di bar.” “Menarik. Suatu saat nanti aku ingin datang melihatmu melakukan juggling.” Alister memberikan senyuman tulus, dan tidak ada nada merendahkan dalam ucapannya. *** Elaina keluar dari penthouse dalam balutan kemeja Alister yang hanya sebatas paha. Kemeja itu Nampak seperti kaos oversize saat dikenakan Elaina. Ia juga memakai sandal kulit yang terlalu besar untuknya. Semua karena ia kehilangan salah satu sepatunya. Alister mengantarnya langsung ke rusun yang ditinggalinya sekalian berangkat ke kantor. “Kamu tinggal di rusun ini?” Elaina mengangguk. “Iya, Pak. Maaf, aku nggak bisa ngajak Bapak masuk karena ada teman satu rumah aku. Jam segini biasanya dia masih tidur, karena jam kerja dia juga sampai pagi.” Alister tersenyum. “Nggak masalah. Ingat janjimu untuk memikirkan tawaranku.” “Iya, Pak.” Elaina memberikan anggukan mantap. Dalam hatinya ia masih harus berpikir berulang kali untuk menyetujui tawaran itu. Ia tidak tahu apa motif Alister bersedia membantunya, apalagi hingga mengorbankan waktunya. Elaina menuruni tangga dengan langkah pelan, matanya masih mengikuti kendaraan hitam mengkilat yang dikendarai Alister hingga menghilang di ujung jalan. Ia menghela napas panjang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Pertanyaan berputar di kepalanya, dari mana Alister mengenalnya, dan mengapa laki-laki itu begitu mudah menawarkan sebuah kesepakatan. Elaina sadar, niat Alister tidak sepenuhnya tulus. Selain ingin menghindari pernikahan, jelas terlihat bahwa ia juga tertarik pada tubuhnya. Kesepakatan yang ditawarkan Alister memang tampak seperti hubungan saling menguntungkan. Namun, Elaina tidak berniat menerimanya. Ia tidak ingin ada pembalasan atau keterikatan baru. Baginya, masa lalu sudah cukup memberi pelajaran. Fidell telah menikah, dan Elaina merasa harus tahu diri. Ia tidak ingin lagi berharap pada mantan tunangannya itu, apalagi terjebak dalam situasi yang bisa menimbulkan luka baru. Setibanya di rumah, seperti yang ia duga, temannya masih tertidur. Elaina segera berganti pakaian, melepas kemeja dan mengenakan daster sederhana. Ia lalu mulai mencuci pakaian yang menumpuk. Untungnya, beberapa minggu sebelumnya ia membeli mesin cuci bekas dari tetangga yang hendak pindah. Mesin itu tidak terlalu tua, tetapi masih berfungsi dengan baik. Keputusan membeli mesin tersebut membuat pekerjaannya lebih ringan. Saat ia menjemur pakaian di halaman, tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Elaina menoleh, merasa ada sesuatu yang akan terjadi, dan tubuhnya refleks menegang menunggu siapa yang muncul. “Elaina, kamu kemana saja? Dari kemarin aku tidak melihatmu. Libur malah nggak di rumah?” Ia menoleh, menatap laki-laki kurus dengan wajah cantik yang menggemaskan di belakangnya. “Hai, aku sedang melakukan misi rahasia.” Elaina menjawab asal pertanyaan temannya itu. Laki-laki itu mengernyit, curiga pada jawaban asal Elaina. “Apaan?” “Ada deh. Anak kecil nggak usah tahu!” Laki-laki itu mendengkus lalu membalikkan tubuh. “Terserah kamu aja deh. Asal jangan bikin masalah yang membuat heboh, apalagi kalau kamu sampai hamil di luar nikah.” “Siap, Boss!” Elaina tersenyum, menatap temannya yang pergi ke dapur. Namanya Thomas, seorang laki-laki dengan wajah cantik dan manis, meski namanya terdengar sangat maskulin. Ia bekerja sebagai dancer di bar yang sama dengan Elaina. Hubungan mereka terjalin akrab, seperti saudara kandung yang saling mendukung. Karena alasan ekonomi, keduanya memutuskan untuk tinggal bersama dalam satu rumah. Keputusan itu semata-mata untuk meringankan biaya sewa tempat tinggal. Tidak ada hubungan romantis di antara mereka, hanya persahabatan yang saling menghargai. Thomas sendiri memilih meninggalkan rumah demi mengejar cita-citanya, dan mereka bersepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Menjelang pukul lima sore, Elaina bergegas naik ojek menuju tempat kerjanya. Sesampainya di bar, ia segera berganti pakaian kerja. Kemeja putih dipadukan dengan celana merah dan rompi merah menjadi seragam yang harus dikenakan. Ia merapikan penampilan dengan make up tipis, menambahkan lipstik agar wajahnya terlihat segar. Rambutnya dikuncir rapi, lalu ia menyemprotkan parfum di pergelangan tangan dan belakang telinga. Sebagai seorang peramu bar, Elaina tahu pekerjaannya tidak hanya menuntut keterampilan dalam meracik minuman. Penampilan juga menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Para pelanggan lebih senang melihat staf yang rapi dan menarik. Karena itu, ia selalu berusaha menjaga detail kecil dalam penampilannya. Dengan persiapan yang matang, Elaina siap menghadapi malam panjang di bar, tempat ia dan Thomas sama-sama berjuang untuk kehidupan mereka. “Elaina, hari ini kamu berada di meja depan. Justin, tidak masuk. Sakit!” Manajer bar berujar saat melihatnya datang. Elaina mengangguk, mengangkat jempol. “Siap!” Untunglah malam ini bukan malam Minggu, ia tidak akan keteteran karena salah satu peramu utama tidak masuk. Di bar ini ada beberapa peramu di stand minuman, untuk berjaga-jaga jika banyak permintaan minuman dari pengunjung. Ia menyiapkan gelas dan mulai bekerja saat satu per satu tamu berdatangan. Ada beberapa pengunjung yang kerap datang ke bar dan ia mengenali mereka. “Elaina, seperti biasa.” Seorang perempuan cantik dengan gaun hitam dan lipstick tebal duduk di depannya. Salah satu pelanggan tetap Elaina, beberapa kali datang dan hanya meminta minuman racikan dari Elaina. “Blue fantasy cocktail?” Perempuan itu mengangguk. “Benar sekali.” “Siap, ditunggu.” Elaina mengambil gelas tinggi, memasukkan es batu kotak yang panjangnya melebihi gelas. Meracik vodka, syrup, créme, dan orange blossom water tiga tetes. Tidak lupa perasan lemon, dan putih telur. Mengocoknya selama 25 menit bersama campuran es batu. Setelah itu menuangkannya ke dalam gelas tinggi dan menyerahkan pada perempuan itu. “Silakan.” “Terima kasih, Elaina.” Elaina membuat pesanan yang lain. Meracik minuman yang berbeda beda. Sebenarnya, pekerjaan ini lumayan menyenangkan untuknya. Yang membuat kesal adalah anggapan saudara dan kerabatnya yang menganggap bekerja di bar adalah hina. Padahal yang ia lakukan adalah meracik rninuman, bukan menjual diri. Malam makin larut, dan para pengunjung makin banyak. Di sesi istirahat selama sepuluh menit, ia menerima tamu. Kunjungan dari seseorang yang tidak diduganya. Laki-laki itu menunggunya di teras belakang bar. Tentu saja laki-laki itu tahu di mana harus bicara dengannya, karena beberapa kali pernah kemari. Elaina menghela napas, tidak mengerti apa yang diinginkan Fidell dengan mendatanginya di sini. “Fidell, ada apa?” Laki-laki itu membalikkan tubuh, menyipitkan mata dan menyeringai. “Masih hidup kamu ternyata?” Elaina terdiam, Fidell maju dua langkah mendekat dan mengamati dari atas ke bawah sambil berdecak. “Aku pikir, setelah kamu mengacau, rasa malumu muncul. Biasanya, orang-orang yang melakukan tindakan nekat sepertimu akan punya rasa malu. Mereka mungkin pergi atau menghilang. Kamu tetap di sini Elaina. Hebat sekali. Jangan-jangan kamu tidak lagi punya rasa malu?” Perkataan Fidell membuat kemarahan kembali menggelegak dalam diri Elaina. Membohongi dan menyakiti perasaan Elaina saja rupanya tidak cukup bagi Fidell, dan kini masih ditambah dengan ucapan yang merendahkan. Elaina mengepalkan tangan, bersiap kalau seandainya ia harus memukul mantan tunangannya yang berkhianat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN