Teguran Alister membuat Fidell menghela napas panjang, begitu pula Arvin. Keduanya susah payah menahan emosi. Sampai akhirnya menyerah dan duduk kembali dengan sikap kaku. Hubner termenung, menatap anak dan cucunya. Merasa sangat ironis. Anaknya yang paling diinginkanya untuk menduduki jabatan, justru menolak. Sedangkan yang lain malah berebut. Ia sudah tua, ingin hidup tenang tapi malah terjebak dalam kekacauan. Bangkit dari sofa, ia meminta Alister menemaninya ke kamar. Meninggalkan kedua cucunya di ruang tamu. Kesedihan merambat dari hati melihat cucu-cucunya bertikai. Merasa marah pada anak-anaknya karena menggunakan kedua cucunya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. “Kamu lihat, Alister? Apa yang terjadi pada mereka? Kamu masih menolak keinginan Papa?” Alister menghela napa

