Keduanya saling berhadapan, udara di antara mereka terasa berat seolah dipenuhi oleh kata-kata yang tak terucapkan. Tubuh Fidell menegang, dan ia merasa seperti terperangkap dalam pandangan Elaina. Mata gadis itu, yang berkilauan bagai permata di bawah cahaya lampu, menusuk hingga ke dasar hatinya. Sejak dulu, ia tahu Elaina itu cantik. Ia pernah, dalam diam, mengagumi senyumnya yang lembut dan tawanya yang jernih. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Elaina berdiri di hadapannya dengan anggun, gaun yang membalut tubuhnya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuh rampingnya. Kilauan halus dari kainnya memantulkan cahaya, membuatnya tampak seperti seorang puteri yang baru saja turun dari negeri dongeng. Wajahnya yang jelita, dihiasi sentuhan riasan yang tak berlebihan, membuat Fidell terpa

