“Iya, aku gila karena kalian. Hanya karena aku miskin, kalau semena-mena padaku. Ingat, Fidell, jangan Iagi mendekatiku. Dan kamu, perempuan sombong!” Elaina mencengkeram lebih kuat. “Aku nggak akan biarkan kamu menganiayaku, sama seperti mertuamu. Aku akan membalas kalian semua. Camkan itu!” Elaina melepaskan cengkeraman itu dengan gerakan tegas, kemarahan membakar sorot matanya. Tanpa ragu, ia mendorong Ivanka hingga tubuh perempuan itu terhuyung dan membentur dinding. Suara benturan itu bergema di ruangan yang sempit, menciptakan keheningan sesaat yang terasa mencekam. Namun Elaina tidak berhenti. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan tempat itu, menuju ruang pesta sambil menggenggam erat amarah yang membuncah di dadanya. Napasnya terengah, bukan karena kelelahan, tetapi karena gelomb

