Ivanka duduk gelisah di teras samping rumah, matanya kosong menatap jalan yang sepi. Sudah hampir malam, dan suaminya belum juga pulang kerja. Setelah makan malam yang terasa hampa dengan Mali, ia memilih untuk pulang, meski hatinya masih kacau. Pikiran tentang percakapan yang tidak berjalan baik dan kekhawatiran yang terus menggelayuti membuatnya merasa terjepit. Ia tak tahu harus bagaimana. Dengan perasaan yang semakin cemas, Ivanka merogoh tasnya dan menarik sebatang rokok. Ia menyalakan api, menghisapnya dalam-dalam. Biasanya, ia sudah berniat berhenti merokok, namun malam ini perasaan gelisahnya terlalu kuat untuk diabaikan. Asap rokok yang terhembus hanya memperburuk suasana hatinya, tetapi setidaknya memberikan sedikit ketenangan sejenak. Pikirannya tak bisa jernih, dan setiap deti

