Rasanya seperti berada di rumah, Elaina terbangun karena sentuhan hangat dan kecupan mesra. Ia menggeliat, tergelitik oleh lengan kokoh yang mencoba merengkuhnya. Tubuhnya dibalik, bibirnya dikecup, dan saat belum terbangun sepenuhnya, ia dibuat gemetar karena sentuhan. Elaina membuka mata, menyadari dirinya berada dalam pelukan Alister. “Selamat siang.” Elaina tersenyum. “Siang.” Alister membantunya duduk, setelah sepenuhnya sadar ia mendesah. “Jam berapa sekarang?” “Sebelas.” “Wow, udah siang sekali.” “Ya, dan aku lapar. Menunggumu makan.” Elaina menggeliat, menggoyangkan kepala untuk menghilangkan rasa ngantuk. Ia menatap Alister sambil tersenyum, mengusap dagu dan bibir laki-laki itu. “Aduuh, tampannya.” Cara Elaina rnerayu membuat Alister menaikkan sebelah alis. “Kamu baru tah

