Suasana bar yang riuh, hiruk pikuk, dan gemerlap, membuat silau para pengujung. Orang-orang berdatangan dengan seribu macam niat, tapi lima puluh persennya untuk bersenang-senang. Sisanya untuk menghilangkan kegundahan. Seperti yang dilakukan Zarah. Semenjak bertemu Alister di bar ini, ia bertekad datang setiap hari, berharap bisa bertemu lagi dengan laki-laki pujaannya. Yang harus menderita adalah Elaina. Menerima curahan hati tanpa henti dari seorang perempuan tentang kekasihnya. Inginnya Elaina menghindar dari Zarah, tapi itu sesuatu yang mustahil selama ia masih ingin bekerja di tempat ini. “Kamu bisa bayangkan, Elaina. Dia ada di sini. Aku bisa bertemu lagi dengannya.” Elaina yang sedang mencampur minuman, tersenyum ramah. “Senang, ya?” Zarah mengibaskan rambutnya ke belakang. “Te

