Sudah beberapa bulan terakhir, pagi hari kehilangan pesonanya bagi Meriam. Udara segar saat matahari baru terbit, yang dulu menjadi penyemangat, kini terasa hambar. Pagi yang biasa diisi dengan rutinitas menenangkan seperti secangkir kopi hangat, yoga, dan obrolan ringan bersama suaminya, Aldian, kini hanya menjadi kenangan. Ia merindukan celotehan Aldian yang selalu penuh antusiasme, membahas perkembangan perusahaan yang menjadi kebanggaannya. Bahkan Fidell sering ikut bergabung, dan bersama-sama mereka merencanakan liburan yang hampir selalu terlaksana tanpa hambatan. Meriam juga merasakan kenikmatan dari kerja keras suami dan anaknya. Dalam satu bulan, ia bisa membeli barang-barang mewah yang diinginkannya tanpa rasa khawatir. Tas bermerek, pakaian berkelas, hingga perhiasan yang berki

