Ruang rapat sunyi sepi, tidak ada yang berani bicara ataupun bergerak. Alister tetap memutar slide di layar proyektor, membeberkan data-data, yang entah dibaca oleh mereka atau tidak. Ia tidak peduli, yang terpenting apa yang ingin disampaikannya sangat jelas untuk dimengerti. Dari tempatnya berdiri, Alister bisa melihat Aldian yang terperangah dengan wajah pucat, begitu pula Fidell. Arbain mencopot kacamata dan meremasnya nyaris hancur. Laki-laki yang biasanya selalu tenang itu, kehilangan ketenangannya. Begitu pula para peserta rapat yang lain, mereka saling pandang tidak mengerti, setelah menelaah kata-kata Alister. Aldian berdehem, setelah menemukan kembali suaranya. “Alister, aku rasa ada salah paham di sini.” Alister menatap kakak keduanya. Tanpa senyum, berkata dengan tenang. “Ba

