Alister terkejut saat mendapati ada orang lain di ruangan Sang Papa. Ia datang setelah mengikuti rapat dengan direksi, ingin bicara dengan Sang Papa tentang hasil rapat tapi malah mendapati ada tamu. Ia menahan rasa kesal dan tetap tersenyum. “Pa, ada tamu rupanya.” Seorang laki-laki gemuk dengan rambut yang beruban, berdiri dari sofa dan menatap Alister dari atas ke bawah. “Ternyata, Alister kecil sudah begini dewasa dan tampan. Waktu memang berlalu begitu cepat, Hubner!” Suara laki-laki itu menggelegar di ruangan yang kecil. Hubner menghampiri dan menepuk punggungnnya. “Alister ini tampan, karena mewarisinya dariku, Prasetya!” Laki-laki yang dipanggil Prasetya tertawa lebih keras. “Hahaha. Tidak diragukan lagi.” Alister berdiri tenang saat Prasetya memujinya. Pandangan matanya tert

