Arbain mencopot kacamata dari wajahnya dengan gerakan perlahan, meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu yang sudah agak usang. Keheningan yang membungkus ruangan terasa berat. Kepulan asap rokok yang terus membubung dari ujung batang rokok Aldian semakin memenuhi udara, membuat matanya sedikit perih. Ia mengusap mata dengan punggung tangan, mencoba menahan rasa pedih yang mengganggu. Sementara itu, Aldian tetap duduk di kursinya, tidak mengindahkan keadaan sekelilingnya, seolah-olah dunia hanya berputar pada dirinya dan rokok yang tak kunjung habis. Aldian, yang sedari tadi tidak berhenti menghisap rokok, tampak seperti orang yang terperangkap dalam kecemasan yang tak terucapkan. Setiap hisapan tampaknya membawa beban yang lebih berat, seolah-olah rokok itu adalah cara bagi Aldia

