"Asisten, tentu saja." "Bu-bukan, Pak, saya bicara sendiri kok," ucap Maura tergagap, wajahnya sampai memerah. Daniel mengangkat alis, sedikit terkejut mendapati Maura tampak seperti anak kecil yang tertangkap basah. "Oh, saya pikir bicara ke saya," ujarnya ringan. Maura buru-buru meluruskan. "Tidak, tidak, saya hanya ... sedang berpikir sebentar." Daniel mengangguk singkat, tanpa dijelaskan dia bisa menyimpulkan yang tengah Maura lakukan dari raut wajahnya. Sementara itu, Maura men-desah panjang. Tatapannya terarah pada tugas yang baru saja diberikan padanya. Tugas yang terasa begitu mustahil dan sangat tidak masuk akal. Setelah ragu sejenak, dia memberanikan diri berbicara. "Pak Daniel, maaf sebelumnya, tapi tugas ini tidak masuk akal. Tolong katakan pada Pak Abimanyu kalau saya k

