“Makan angin,” jawab Abimanyu santai, bahunya terangkat ringan. Maura menatapnya lekat, menahan helaan napas yang hampir lolos. Padahal ia hanya bertanya dengan nada biasa, tapi balasan Abimanyu selalu menguji kesabarannya. "Abimanyu," panggil Maura, suaranya terdengar datar, tapi raut wajahnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda menyerah. "Aku tanya serius, jawab yang benar itu apa susahnya?" Abimanyu menoleh perlahan, menyandarkan tubuh di kursi dengan ekspresi tak terbaca. “Ini serius. Aku kenyang ....” Ia berhenti sejenak, menghela napas sambil menatap meja makan. “Lebih tepatnya tidak naf-su makan nasi.” Maura memutar bola matanya malas. Sejujurnya, dia juga tidak benar-benar peduli Abimanyu mau makan atau tidak. Tapi, sebagai asisten pribadi yang katanya bertugas mendampingi Abim

