"Aku terlalu bersemangat sampai lupa cium mamanya, maaf ya." Ucapan santai Abimanyu diikuti oleh kecupan singkat di bibir Maura hanya terjadi kurang lebih lima detik, tapi efeknya bertahan berjam-jam di benak wanita itu. Hingga malam hari, bayangan momen itu terus menghantui Maura. Wajahnya merah padam setiap kali mengingat hal itu, dan dia tidak tahu apakah harus marah, malu, atau justru senang. Sepeninggal Abimanyu pergi, Maura mencoba mengalihkan pikirannya dengan berbagai aktivitas. Namun, usahanya sia-sia. Dia yang biasanya mencuci pakaian hanya memakan waktu satu jam, kali ini membutuhkan dua kali lipat lebih lama lantaran Maura tidak fokus sama sekali. "Kenapa dia harus menci-umku sih," gerutunya, mencoba menyalahkan Abimanyu meski dia tahu rasa salah tingkah ini datang dari dir

