Penghianat

860 Kata

Veve meremas-remas kertas diatas meja. Kepalanya terus menunduk, tak berani barang sedikitpun menghadap ke depan. Teman-temannya seolah mengucilkan dirinya. Begitupun dengan guru yang mengajar di depan kelas yang sama sekali tak peduli dengannya. Saat sesi tanya jawab, semua murid maju satu-satu. Tapi tidak dengan Veve yang namanya tak disebut. Veve ingin nangis, kalau saja dia di rumah, sudah pasti dia akan memeluk boneka bebek kesayangannya. Waktu terasa begitu lama. Telinga Veve juga sudah panas mendengar cacian teman-temannya. Tak ada lagi Veve yang ceria, petakilan, dan selalu bikin orang ketawa. Veve hanya diam dan menunduk. Sudah jalan takdirnya seperti itu. Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Veve melirik teman-temannya yang sibuk berkem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN