Veve beringsut mundur, bahunya bergetar hebat. Rasa takut menjalari seluruh tubuhnya. Berkali kali Veve menggigit bibirnya hanya untuk meredam ketakutannya melihat wajah Akbir yang syarat akan amarah. Grep! Tubuh Veve menegang. kaku seperti disiram air es. Diluar dugaan saat Akbir malah memeluk tubuhnya dengan erat. Veve diam, tak menolak maupun membalas pelukan suaminya. Fikirannya melayang dengan kejadian yang begitu cepat. Sekedar membuka suara pun, Veve tak mampu. "Maaf," ucap Akbir dengan pelan. "Apa tadi di sekolah kamu di bully?" tanya Akbir yang masih setia memeluk tubuh Veve. "Aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi, maafkan aku, kamu harus baik-baik saja," Hati Veve seakan menghangat. Hanya mendengar kata maaf dari Akbir sudah kembali mengobarkan harapannya. Veve mengelus

