bc

Menggoda Untuk Membalas

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
one-night stand
family
age gap
drama
office/work place
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Setelah berhasil selamat dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh sahabatnya, Laura, dan tunangannya, Kevin, Gween memutuskan untuk menjalani operasi plastik dan mengganti identitas menjadi Glenca.

Sekarang, dia kembali dengan misi balas dendam kepada para pengkhianat itu. Langkah pertamanya adalah, menggoda ayah Laura dan merebut semua yang berharga bagi mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Gween berdiri di depan cermin besar di kamar yang dingin dan sunyi. Cahaya putih dari lampu menerangi wajahnya, menyoroti setiap perubahan yang kini membuatnya nyaris tak bisa mengenali dirinya sendiri. Hidungnya lebih ramping, dagunya tajam dan tegas, dan pipinya yang dulu penuh telah menjadi lebih tirus. Operasi plastik telah mengubah hampir seluruh fitur wajahnya, membentuk kembali seseorang yang dulu lemah menjadi sosok yang penuh tekad. Ia menyentuh wajah barunya dengan jemari yang bergetar, merasakan permukaan kulit yang masih terasa kaku dan kering akibat penyembuhan. Sentuhan itu tidak hanya membangkitkan sensasi fisik, tetapi juga membuka gerbang memori kelam yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan. Wajah di cermin mungkin telah berubah, namun setiap garis dan lekuk di wajah baru itu mengingatkannya pada penderitaan yang ia alami, pengkhianatan yang menghancurkan seluruh hidupnya. Gween menutup mata, membiarkan bayangan malam itu menyeruak kembali. Gween ingat bagaimana ia pertama kali menyadari perselingkuhan Kevin dan Laura. Laura adalah sahabatnya sejak kecil, dan Kevin adalah pria yang telah menjadi pusat dunianya. Ketika ia pertama kali mengetahui rahasia mereka, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Seolah-olah seluruh dunia berputar lebih lambat, saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pengkhianatan itu terjadi. Gween mencoba mengabaikan rasa sakit dan mengubur semua kecurigaannya. Ia berharap, meskipun nyaris mustahil, bahwa Kevin dan Laura akan menyadari kesalahan mereka dan memperbaiki semuanya. Namun, kenyataan semakin menusuk ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan itu bukan sekadar kesalahan yang akan mereka sesali. Laura dan Kevin tidak hanya berselingkuh, mereka juga mempermainkannya. Menjadikannya bahan cemoohan, dan berusaha membuatnya merasa tak berharga. Gween merasa dihancurkan, diabaikan, dan dikhianati. Saat itu, ia memutuskan untuk tidak lagi diam. Dengan amarah yang menggelegak, ia memanggil mereka untuk bertemu, berharap ancaman untuk mengungkap kebenaran akan membuat mereka gentar. Namun, tatapan dingin yang ia lihat di mata Laura malam itu mengatakan sesuatu yang lain. Laura berkata dengan suara dingin dan mematikan, "Jika kamu berani menghancurkan hidup kami, kami pastikan hidupmu takkan bertahan lama," Gween merasakan ketakutan yang aneh, tetapi amarahnya lebih besar daripada ketakutan itu. Ia menantang mereka, menolak untuk mempercayai bahwa mereka akan benar-benar bertindak sekejam itu. Namun, ia salah. Sangat salah. Malam itu juga, tubuhnya dihantam keras ke aspal di parkiran yang gelap. Kepalanya beradu dengan permukaan yang keras, memancarkan rasa sakit yang memekakkan, membuat pandangannya mulai buram. Dalam kabut kesadaran yang perlahan pudar, ia melihat Kevin berdiri tak jauh, menatapnya dengan dingin dan tanpa emosi. Pria itu menambah pukulan pada tubuhnya dengan balok kayu yang cukup besar. Keduanya membawa tubuh Gween yang penuh luka dan membuangnya ke hutan. Laura, sahabatnya yang dulu hangat dan penuh tawa, kini tersenyum mengejek. "Selamat tinggal, Gween," bisik Laura dengan nada tajam dan penuh kebencian. "Kamu memang tidak seharusnya hidup dan menjadi bagian dari kami." "Dia tidak memiliki siapapun, tapi berani mengancam kita. Bukankah itu sangat bodoh? Setelah dia mati, orang-orang akan segera melupakannya. Siapa yang akan peduli dengannya? Keluarga saja dia tidak punya!" Kevin menendang Gween dengan kakinya. "Dia memang selalu percaya diri dan sombong bukan? Itu memang tabiatnya!" Laura tertawa, ia mengambil kayu yang Kevin bawa, dan kembali memberinya pukulan. "p*****r murahan! Kamu akan menjadi makanan binatang buas malam ini!" Setelah mereka meninggalkannya, kegelapan menyelimutinya, membawa Gween ke dalam kehampaan yang dingin dan sunyi. Gween pikir, dia akan berakhir malam itu. Takdirnya memang stragis itu. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Gween diselamatkan oleh seseorang yang menemukan tubuhnya di hutan. Ia memang terluka parah, namun masih bernafas. Saat ia akhirnya membuka mata di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh dengan luka dan memar, wajahnya rusak, dan hatinya terluka lebih dalam dari sebelumnya. Kenyataan bahwa ia selamat menjadi ironi yang menyakitkan, tetapi juga memberinya kesempatan untuk merencanakan sesuatu yang lebih besar. Ia menyadari bahwa orang-orang yang paling ia percayai, ternyata mereka yang ingin menghancurkannya. Kini, dengan wajah yang telah ia rekonstruksi dan identitas baru yang ia bangun, Gween tahu bahwa dirinya tidak lagi sama. Sosok naif dan lemah yang dulu mereka hancurkan telah tiada. Sekarang, ia adalah Gween yang baru, seseorang yang kuat dan penuh tekad. Tujuan hidupnya kini hanya satu—membalas setiap rasa sakit yang mereka berikan padanya. Dunia gemerlap yang mereka bangun akan ia runtuhkan, satu demi satu, hingga mereka tenggelam dalam kehancuran yang tak terhindarkan. Gween menghela napas panjang, menatap bayangan dingin dirinya di cermin. Tak ada lagi kelembutan atau kepolosan di sana. Ia telah berubah. Laura dan Kevin, yang hidupnya bergantung pada citra sempurna di dunia modeling, akan merasakan amarah yang sama seperti yang pernah ia rasakan. Dengan tekad yang membara, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mereka akan membayar mahal atas pengkhianatan itu. Ini bukan lagi wajah seseorang yang percaya pada cinta dan persahabatan. Ini adalah wajah balas dendam. Dan tak ada yang bisa menghentikannya. Dan sekarang, namanya adalah Glenca! Gween sudah mati! ***** Dengan wajah baru yang nyaris tak dikenali siapa pun, Gween berdiri di depan makam orang tuanya. Angin sore berembus pelan, membawa aroma bunga yang ia taburkan di atas pusara, sebuah penghormatan sekaligus permohonan restu yang terdalam. Di balik wajah dingin dan pandangan penuh dendam, hatinya masih merasa berat—karena ia tahu, jalur yang ia pilih tidaklah benar. Namun, bukan keinginannya yang memicu semua ini. Bukan dirinya yang memilih untuk berubah menjadi sosok kejam. Mereka yang memaksa Gween menjadi seperti ini. "Ma, Pa... maafkan Gween," bisiknya, menatap penuh haru pada nama-nama yang terukir di nisan orang tuanya. "Gween telah menjual rumah kita, rumah tempat kita berbagi kenangan." Ia mengusap lembut nisan itu, perasaan bersalah membelit hatinya. "Gween janji akan membeli kembali rumah itu suatu hari nanti. Tapi sekarang... Gween butuh uang itu untuk membalas mereka. Gween butuh kekuatan untuk membuat mereka menyesali semua yang telah mereka lakukan." Rumah dan kebun yang orang tuanya tinggalkan, yang terletak di pinggiran kota dengan hamparan bunga yang selalu menenangkannya sejak kecil, telah ia jual. Uang hasil penjualan itu membiayai operasi plastiknya, mengubah wajah yang telah mereka hancurkan menjadi wajah baru yang dingin dan tak kenal ampun. Apartemen kecil di pusat kota kini menjadi tempatnya bersembunyi, sekaligus pangkalan di mana rencana balas dendamnya akan terjalin satu demi satu. Dan juga, Gween membangun sebuah toko kue kecil yang akan menemani identitas barunya. Dia harus punya penghasilan. Dan Gween rasa, toko kue sangat cocok untuknya. Tabungan hasil kerja kerasnya di dunia modeling pun telah dikuras habis, dikhianati oleh Kevin yang dengan tanpa rasa malu menyapu bersih semua yang ia miliki setelah upaya pembunuhan itu. Pria yang dulu ia cintai dengan sepenuh hati, berubah menjadi monster yang tak kenal belas kasih. Gween bersumpah akan memburu mereka, dengan setiap kekejaman yang sama, yang mereka gunakan untuk menghancurkannya. Tiba-tiba, di tengah lamunannya, matanya menangkap sosok yang tak asing di kejauhan. Pria itu berdiri di samping makam lain, wajahnya tampak sayu dan tenang di bawah cahaya senja yang semakin redup. Sosok itu adalah Gabriel, ayah Laura—atau lebih tepatnya, wali yang telah mengasuh Laura sejak kedua orang tuanya meninggal. Gabriel adalah adik dari ayah Laura, pria berusia 37 tahun yang memikat dengan ketampanan dan sosoknya yang gagah. Jambang tipis diwajahnya menunjukkan kedewasaan. Tetapi tatapan matanya seperti selalu menyimpan misteri. Gween ingat betul bagaimana Laura memperlakukan Gabriel seperti harta berharga. Setiap kali Gween menginap di rumah Laura, Laura tak pernah berhenti mengkhawatirkan satu hal, bahwa suatu hari Gabriel akan menikah dan tidak lagi peduli padanya. Kekhawatiran itu begitu mendalam, sampai-sampai Laura rela melakukan apa saja untuk mempertahankan posisi spesialnya di hati pria itu. "Kak, aku sudah merawat Gween hingga dia dewasa. Tanggung jawabku juga akan segera usai. Dia akan menikah dengan Kevin, pria pilihannya. Janjiku padamu sudah kutepati." Gween bisa mendengar suara Gabriel yang lembut dan penuh kehangatan, sama seperti ketika dia berbicara dengan Laura. Namun, kini Gween melihat Gabriel dalam cahaya yang berbeda. Pria itu kini menjadi bagian penting dari rencana balas dendamnya. Jika ada satu hal yang akan menghancurkan Laura seutuhnya, itu adalah kehilangan perhatian dari Gabriel, sosok yang selama ini selalu menjadi pusat hidupnya. "Gabriel..." Gween berbisik pelan, seulas senyum licik tersungging di bibir merah mudanya. "Iya, Gabriel..." Gween melipat tangannya di d**a. "Tunggu tanggal mainnya! Gween sudah mati. Dan Glenca yang akan membalas semua rasa sakitnya!" *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
659.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
897.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
317.0K
bc

Not just, the Beta

read
322.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook