Bab 8

913 Kata
Sheza semakin bingung karena para pelayan menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya dengan gaun yang di siapkan oleh Zello. Tak hanya gaun, tapi semua aksesoris dan juga perlengkapan yang lain juga sudah disiapkan oleh Zello. Tiba tiba saja jantung Sheza berdebar sangat keras. Dia merasa aneh karena merasa jika Zello sedang menyiapkan kejutan untuknya. "Kok rasanya jadi aneh gini? Nggak mungkin kan dia nyiapin sesuatu buat aku?" gumam Sheza lirih. Sheza yang sudah bersiap segera keluar saat salah satu pelayan menghampirinya. "Tuan muda sudah menunggu nyonya di taman belakang." Sheza mengangguk, raut wajah bingungnya sudah berubah kembali menjadi dingin di depan para pelayan. Meskipun jantung Sheza tiba tiba berdetak lebih kencang tapi dia terbiasa menutupi wajah aslinya di depan orang lain. Saat sampai di ambang pintu masuk taman, tubuhnya membeku. Taman di depannya di rubah sedemikian rupa. Menjadi lebih romantis dan lebih indah. Di depannya, terlihat Zello tengah berdiri sambil menatap lurus ke arahnya. Perlahan kaki Sheza melangkah ke arah Zello. Mata keduanya saling menatap seolah tak bisa di lepaskan lagi. Berkali kali Sheza mencengkeram gaun yang di pakainya. Dan entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat ini. Padahal mereka hanya sekali bertemu dan melewati malam panas. Tapi entah kenapa malah kali ini Sheza yang merasa jika Zello serius dengan nya. Tak terasa jika langkah Sheza sudah sampai di depan Zello. Tangan Zello meraih dagu Sheza yang sejak tadi hanya menunduk. "Apa sepatu ku lebih menarik dari pada melihat wajahku?" Sheza melihat wajah Zello yang terlalu dekat dengan nya saat ini. "Apa ini Zello? Kamu nyiapin semua ini buat aku?" Zello melepaskan dagu Sheza dan berpindah menarik tangan Sheza untuk di bawanya duduk. Sheza hanya menurut, meskipun hatinya sudah tak karuan rasanya tapi dia berusaha untuk tetap tenang agar Zello tak menertawakan nya. Sungguh Sheza akan sangat malu jika sampai ketahuan jika dia tak tenang saat ini. "Zello, kamu belum jawab pertanyaan ku. Untuk apa kamu siapin ini semua?" "Kamu lupa dengan perkataan ku kemarin?" Sheza mengerutkan keningnya bingung. Lalu mengingat apa yang di katakan Zello kepadanya. Beberapa detik berikutnya, raut wajah Sheza menegang dan Zello tahu jika Sheza ingat dengan apa yang di katakannya. "Udah ingat?" Sheza mengangguk ragu, dia melihat Zello dengan wajah tak percaya nya. Jika seorang Zello bisa langsung mengajaknya nikah hanya karena mereka sudah pernah tidur bersama. "Apa kamu melakukan semua ini kepada semua wanita?" tanya Sheza tiba tiba. Zello menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan aneh Sheza tapi kemudian Zello tertawa terbahak saat melihat raut wajah Sheza yang masam. "Kamu menuduhku punya wanita banyak di luar sana?" "Oh, ayolah Sheza, aku laki laki berengsek. Bahkan pengalaman ku pertama kali itu sama kamu. Jadi bagaimana bisa kamu langsung menyimpulkan semua itu tentangku?" Sheza mengigit bibir bawahnya karena Zello tengah menatapnya tajam. Zello yang gemas dengan sikap Sheza bangkit dari duduknya, berdiri di depan gadisnya itu. Meraih tengkuknya lalu mencium bibir Sheza. Mata Sheza membola terkejut, tak hanya mencium biasa tapi Zello melumat pelan bibir Sheza tak peduli jika disana ada beberapa pengawal dan pelayan yang sedang berjaga. Sialnya, tubuh Zello malah bereaksi yang lainnya. Sheza yang merasa kehabisan napas karena ulah Zello memukul pelan d**a Zello. "Kamu mau bunuh aku?" Zello menahan tangan Sheza yang sedang memukulnya. Lalu menggenggamnya erat. "Ngapain aku bunuh kamu, kalau nyium kamu bisa bikin enak." sahut Zello asal. Bugh.... Sheza memukul lengan Zello keras. Zello hanya terkekeh melihat wajah kesal Sheza saat ini. Entah kenapa melihat Sheza yang kesal menjadi sebuah hiburan untuk Zello. Jangan lupakan para pengawal dan pelayan yang saling pandang karena tak pernah melihat tuannya sesantai itu dengan orang lain. Dan dalam hati mereka, sudah mendapat jawaban. Karena Sheza sudah jelas yang akan menjadi nyonya muda mereka. "Kamu ngapain sih m***m banget sama aku?" Wajah Sheza sudah berubah masam saat ini. Cup... Mata Sheza membola, lagi lagi Zello melakukan hal yang tak ada dalam pikiran Sheza. "Aku nggak m***m, lagian cuma cium kamu dan cuma kamu. Jadi mesumnya dari mana?" Zello mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam sakunya. Membukanya lalu mengambil cincin itu untuk di pasangkan di jari manis Sheza. Tubuh Sheza membeku melihat perlakuan Zello kepadanya. Tak pernah ada dalam pikiran Sheza jika Zello akan seperti ini kepadanya. "Nikah sama aku, dan jadikan aku pisau kamu!" Mata Sheza membeliak, dia melihat Zello yang tiba tiba bicara seperti itu. Di tambah lagi dengan wajah serius Zello yang tak ada gurat kebohongan atau godaan seperti sebelumnya. "Zello, apa maksud kamu?" Zello menarik tubuh Sheza agar berdiri sejajar dengan nya. Memeluk posesif pinggang gadisnya itu. "Aku hanya ingin kamu menikah sama aku, selain sebagai bentuk tanggung jawabku dengan apa yang aku lakukan tempo hari juga aku tahu alasan kenapa kamu mau melakukan itu sama aku." Sheza meneguk ludahnya kasar, dia lupa siapa Zello sebenarnya. Zello yang bisa tahu semuanya dalam sekejap dan terlihat jelas jika Zello tahu apapun yang di lakukan Sheza selama ini. "Meskipun sudah menikah, aku nggak bakal batasin semua yang kamu lakukan. Dengan syarat, kamu nggak boleh ambil kerjaan dengan lawan jenis. Karena aku nggak akan pernah ijinin mereka sentuh kamu!" Peringatan Zello yang satu ini membuat bulu kuduk Sheza merinding. Mata elang itu seolah menguliti nya hidup hidup. Terlebih jari jari Zello sedang bermain di rambut Sheza. "Kenapa kamu mau melakukan ini sama aku? Maksud ku membantuku?" tanya Sheza lirih. Zello tak langsung menjawab, karena jawaban yang akan di berikan pada Sheza kemungkinan akan membuat Sheza tak percaya padanya. "Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri dan aku yang akan mendukungmu. Asal jangan biarkan orang lain melukaimu meskipun sehelai rambutmu!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN