Bab 9

954 Kata
Setelah pernyataan Zello yang mengklaim jika Sheza adalah miliknya membuat Sheza sedikit gugup ketika Zello terus terusan menatapnya. Bahkan saat mereka sedang makan seperti sekarang, Zello masih terus menatapnya dengan segelas anggur merah di tangan nya. "Zello, kenapa kau melihat ku seperti itu?" "Seperti itu bagaimana maksudnya? Aku punya mata, jadi aku bebas melihat apa saja yang bisa aku lihat." Sheza cemberut, karena Zello membuatnya kesal dengan terus menggodanya sejak tadi. Zello terkekeh, dia senang sekali melihat wajah masam Sheza yang baru saja dilamarnya. Tak hanya itu, tanpa sadar cincin juga sudah tersemat di jari manis Sheza. Bukan Sheza tak tahu tentang itu, dia hanya gugup ketika Zello terus menatapnya seolah menelanjanginya saat itu juga. Ponsel Zello berdering, tapi dia hanya melirik dan tak berniat mengangkatnya. "Kenapa nggak di angkat? Dari cewek?" Sheza yang tersadar langsung memukul pelan bibir nya sendiri. Zello yang melihat itu tersenyum, dia berdiri dari duduknya. Membawa ponselnya lalu memberikannya pada Sheza. Sheza menatap Zello tak mengerti. "Angkat, loud speaker." Sheza menerima ponsel Zello dan disana tak ada namanya sama sekali. Sheza mengangkat telfon itu tanpa bersuara. "Zello, ini aku Salsa." Sheza menatap tajam ke arah Zello, sedangkan Zello sendiri mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu dari mana Salsa bisa mendapatkan nomer ponselnya. Apalagi itu ponsel pribadinya. Melihat wajah masam Sheza, membuat Zello tak tahan lagi. Dia menarik dagu Sheza lalu mencium bibir Sheza. Dan sengaja Zello tak mematikan sambungan telfon dari Salsa. "Buka mulut sayang." Sheza menurut, dia mengikuti apa yang Zello mau saat ini. Mereka berciuman, saling membelit lidah, mencecapi masing masing rasa bibir satu sama lain. Di seberang telfon, Salsa membelalakkan matanya karena dia mendengar suara suara desahan dari telfonnya bersama dengan Zello "Zello, jawab aku. Kamu sama siapa?" Salsa mulai menggila dan mengamuk, karena tak kunjung mendapat jawaban dari Zello, Salsa melempar ponselnya dengan keras. Di satu sisi, Zello dan Sheza semakin intens. Tubuh Zello mulai terasa panas. Melihat tuan dan nona nya mulai melakukan hal intim, para pelayan dan pengawal langsung mengerti dan meninggalkan mereka berdua. Zello mengangkat tubuh Sheza, membawanya masuk ke dalam sebuah tenda yang memang disiapkan Zello untuk Sheza. Napas mereka saling beradu, terlihat dengan jelas wajah Sheza memerah karena menahan malu dan juga hasrat yang datang bersamaan. "Zello, ini di luar. Nanti ada yang lihat." Sheza dengan napas yang tersengal menahan d**a Zello agar tak menyerangnya kembali. Tapi Zello tak peduli, dia kembali meraih tengkuk Sheza dan kali ini ciuman itu lebih menuntut dari pada yang sebelumnya. Sheza kewalahan mengimbangi ciuman Zello. Dia ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain. "Zello.....ahhh....." Sheza mendesah sambil menahan sakit karena Zello mengigit lehernya dan meninggalkan jejak disana. Menciumi seluruh tubuh Sheza tanpa terlewat. "Malam ini bukan dalam pengaruh obat sayang." Suara baritone Zello yang serak menahan hasratnya yang ingin meledak. Napas mereka sama sama tersengal, mata mereka saling beradu. Tangan Sheza bergerak pelan di d**a bidang Zello yang membuat Zello memejamkan matanya menikmati sentuhan Sheza saat ini. Sheza yang sadar saat melakukannya menahan diri agar tak mendesah karena dia juga menginginkan sentuhan panas dari Zello. Sheza mengigit bibir bawahnya saat tangan Zello menahan pergelangan tangannya. "Sheza, boleh?" Zello berusaha menahan diri dan meminta ijin pada Sheza. Mata Zello penuh kabur gairah yang berusaha di tahan mati matian eh Zello. Juniornya sudah berkedut hebat ingin bertemu dengan sarangnya saat ini. Sheza mengigit bibir bawahnya, dan dengan tatapan menggodanya dia mengangguk pelan pada Zello. " Damn you, Sheza." ucap Zello menggeram. Zello meraup bibir Sheza menciumnya brutal, tak hanya itu tangan Zello sudah menjamah semua bagian tubuh Sheza yang membuat Sheza memekikkan nama Zello berkali kali. Zello tak segan menggigit puncak gunung milik Sheza yang sudah menegang. Berbarengan dengan melesaknya junior Zello di bawah sana. Jeritan Sheza tertahan karena mulutnya di bungkam dengan mulut Zello. Zello yang awalnya bergerak pelan semakin bergerak cepat saat merasakan kenikmatan dari milik Sheza. "Sayang, kamu sempit banget..." racau Zello di sela permainannya. Seorang Zello mengatakan hal absurd di sela permainannya membuat Sheza tersanjung. Dan dengan tatapan yang liar, Sheza meraih tengkuk Zello lalu mencium bibir Zello terlebih dahulu. Mata Zello membola saat merasakan permainan Sheza yang semakin liar. Malam itu, mereka lewati dengan malam yang lebih panas dari pada sebelumnya. Dalam keadaan sadar sepenuhnya. Hawa dingin dari luar tenda tak membuat dua orang yang sedang berbagi keringat itu merasakan dingin. Tapi semakin membuat mereka berdua semakin liar dengan apa yang mereka lakukan. Hentakan di bagian inti Sheza membuat Sheza semakin menggila. Merasakan rahimnya penuh dengan milik Zello yang sejak tadi menghujamnya kuat. # Di satu sisi, Salsa sedang mengamuk. Sudah payah dia mendapatkan nomer ponsel Zello tapi ternyata Zello sedang bersama seorang perempuan. "Berengsek, siapa perempuan yang bersama Zello. Dia nggak boleh sentuh perempuan lain selain aku!!" Salsa mondar mandir di kamarnya sejak tadi. Salsa mulai kacau karena dalam otaknya hanya ada nama Zello. "Zello nggak pernah mau sentuh seorang wanita. Apa tadi wanita bayaran?" Salsa mencoba menebak apa yang di lakukan Zello saat ini mengingat siapa sebenarnya Zello itu. "Ah, iya pasti cuma cewek jalang yang di sewa kan. Kalau kayak gitu nggak apa apa. Aku masih punya banyak kesempatan. Aku pasti bisa dapatin Zello. Karena cuma aku yang pantas bersanding dengan nya!!" Salsa mengepalkan kedua tangannya menahan marah. Dia melihat dinding kamarnya yang penuh dengan foto Zello selama ini. # Zello tengah melihat Sheza yang sedang tertidur pulas setelah beberapa ronde permainan mereka. Melihat wajah tenang Sheza saat tertidur membjat Zello tersenyum. "Dia kucing liar yang cantik. Kalau cemburu bisa bikin aku enak ternyata." Zello mengambil ponselnya, dan disana ada spam chat dari nomer Salsa dan juga beberapa panggilan baru yang tak terjawab. Zello lalu menghubungi Raka untuk membelikan ponsel yang baru beserta nomernya. "Cari tahu juga siapa yang memberikan nomer ponselku pada wanita sialan itu!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN