Bab 10

977 Kata
Zello memindahkan Sheza ke kamarnya, karena di luar mulai turun hujan. Sejak tadi Sheza belum bangun karena Zello benar benar menghajarnya sampai Sheza sudah tak kuat lagi. Zello berdiri di balkon Vila menunggu info dari Raka tentang siapa yang menyebarkan nomernya kepada Salsa. Sheza, membuka matanya perlahan. Dia melihat sekeliling dan ternyata dia sudah berpindah tempat. Dia bahkan sudah mengenakan gaun tidurnya. Terlihat juga Zello yang sedang merokok diluar kamarnya. Sheza turun, melangkah pelan ke arah Zello. Sheza sempat merasakan pinggangnya yang nyeri karena ulah Zello. "Jangan kesini, aku masih bau rokok." Langkah Sheza terhenti, dia melihat Zello yang tak berbalik ke arahnya tapi langsung mematikan rokoknya. Sheza menunggu apa yang akan di lakukan Zello. Dan ternyata Zello melewatinya begitu saja, masuk ke dalam kamar mandi. "Dia ngeselin banget." Zello yang mendengar omelan Sheza tersenyum tipis. Dia memilih berganti pakaian dan membersihkan dirinya agar tak ada bau rokok sama sekali. Greb.... Tubuh Sheza menegang karena tiba tiba Zello memeluknya dari belakang. Dan tak hanya itu saja, Zello juga mencium pipi lalu merambat ke lehernya. "Nggak usah cemberut, aku cuma ganti pakaian biar nggak ada bau rokoknya." Sheza menggigit bibir bawahnya karena kata kata Zello "Jangan menggodaku." Zello terkekeh, dia membalikkan tubuh Sheza agar menghadap ke arahnya. "Godain tunangan sendiri nggak ada salahnya kan? Dari pada aku godain cewek lain? Kamu mau?" Sheza memindai wajah Zello, melihat ke dalam matanya mencari kebohongan disana tapi nyatanya hanya kejujuran yang terlihat. "Kalau kamu godain cewek lain, aku juga bakal godain cowok lain." Mata Sheza membola saat Zello melumat bibirnya kembali. Lebih menuntut dan ada kemarahan disana. "Jangan macam macam Sheza atau aku akan membunuh laki laki itu!" Ancaman Zello sepertinya tak main main dan Sheza hanya diam tak menyahut lagi karena dia tak ingin membuat Zello marah. "Ikut pulang." Sheza mengangguk pasrah, dia kali ini akan mengikuti apa yang Zello mau. Lebih tepatnya karena dia belum punya tenaga meladeni Zello. # Pedro, di kediamannya sedang menghukum beberapa anak buahnya yang gagal memisahkan Zello dengan Sheza. Di tambah saat ini Raka sedang menyelediki siapa yang menyebarkan nomer pribadi Zello. "Kalian bodoh, kenapa kalian tak hati hati? Apa kalian lupa siapa Zello hah?" Pedro terus mengamuk dan memukuli orang orang suruhannya. Mereka meminta ampun karena tugas mereka gagal dan membuat Pedro semakin mengamuk. "Jika sering marah, kamu akan cepat mati kakek! " Dari ambang pintu terdengar suara Zello yang dingin dan menakutkan. Mata Pedro membola karena tiba tiba Zello ada disana. "Kenapa kamu ada disini?" Zello tersenyum sinis, dia duduk di sofa di dekat Pedro tanpa berniat menyapa Pedro dengan baik. Meksipun Pedro berada disana tapi Zello tak melihatnya sama sekali. "Bukankah papa sudah memberi mu peringatan untuk tak ikut campur dengan urusanku? Tapi ternyata kamu suka sekali membuat orang lain mendoakan mu agar cepat mati!" Mata Pedro membola mendengar semua perkataan Zello. Lalu mata Zello menatap orang orang yang baru saja di hukum oleh Pedro. Zello menyeringai ke arah mereka, dan tanpa menunggu lama dua tembakan melayang mengenai kepala mereka berdua. Dor Dor Tubuh mereka ambruk ke lantai dengan darah segar yang keluar dari kepalanya. Pedro membeku di tempatnya, napasnya tercekat. Zello yang melihat itu tertawa sinis. Dia membersihkan pistol yang baru saja menembak kepala dua orang suruhan Pedro. Pengawal di kediaman Pedro yahh mendengar suara tembakan juga langsung masuk kesana, mereka terkejut ternyata tuan muda mereka yang melakukannya. "Tuan muda tidak apa apa?" "Apa kalian pernah melihatku terluka? Lebih baik kalian urusi saja pak tua itu. Dan juga jangan lupa, dua mayat itu langsung di bakar. Aku nggak mau ada kotoran di sekitarku!" Para pengawal itu mengangguk patuh, mereka tentu saja paham seperti apa Zello selama ini. Terlebih Zello berani mengeluarkan senjata kesayangan, itu tandanya Pedro sudah menyinggung Zello. Zello beranjak pergi dari sana, tapi saat dia berada di ambang pintu langkahnya terhenti. "Ini hanya peringatan, sekali lagi ada yang ikut campur dan membuat wanita ku marah aku bisa lakukan lebih dari ini Kakek!!" Zello menekankan kata terakhirnya yang membuat Pedro memegang erat tongkat miliknya. Para pengawal menunduk tak berani ikut campur. Meskipun mereka berada di rumah utama tapi mereka tak ingin membuat Zello marah dan menghabisi mereka semua. "Sialan kamu Zello, kamu cuma anak kemarin sore. Berani sekali kamu mengatakan itu kepadaku!" teriak Pedro keras. Dor.... Pyar..... Guci di sebelah Pedro di tembak Zello dan hancur berkeping keping. Tubuh Pedro lemas dan wajahnya sudah pucat pasi saat ini. Para pengawal itu terkejut, tapi mereka tak bisa melakukan apa apa. "Itu hanya Guci, jangan memaksaku untuk mengarahkan mainan kesayangan ku pada kepala dan jantungmu. Ingat siapa kamu disini. Jangan belagak kamu menjadi tuan besar di keluarga ini!!" Zello benar benar meninggalkan kediaman Pedro dengan amarah yang sudah memuncak. Pedro memegang dadanya yang sesak karena rasa takut yang tiba tiba menyeruak. Zello tak akan main main dengan apa yang di ucapkannya. "Dia berani menodongkan senjatanya kepadaku?" # Zello mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tak peduli dengan kendaraan lain, ingin rasanya dia langsung menembak kepala Pedro saat itu juga. Zello memilih pergi ke apartemen dan tak kembali pulang ke rumah. Zello tak ingin Venus melihat keadaanya yang tak terkendali seperti ini. Sementara itu, Venus di rumah merasa aneh karena Zello yang tadi pergi dengan terburu buru bahkan tak memberi tahunya jika dia pulang atau tidak. "Ah, sudahlah, ngapain juga aku mikirin dia. Bukannya malah enak jika dia tak ada disini. Aku nggak mau lihat dia karena dia sudah membuat pinggangku terasa nyeri sejak tadi. Oh, astaga dia seperti singa kelaparan!" gerutu Venus. Beberapa pelayan yang di tugaskan dirumah itu menahan tawanya mendengar gerutuan Venus sejak tadi. Tapi ketenangan Venus tak bertahan lama, karena ponselnya kembali berdering. Dan itu dari Salsa yang lagi lagi menghubunginya. "Ada apa?" tanya Venus tanpa basa basi. "Kembalikan Zello kepadaku, dia milikku!!" Venus menjauhkan ponselnya dari dekat telinganya karena teriakan keras dari Salsa. "CK, jangan menggangguku. Jika kamu mau dia, kamu katakan langsung kepadanya!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN