"Siapa yang kamu suruh bilang sendiri?"
Sheza berjingkat karena kaget. Tiba tiba saja Zello berada di belakangnya.
Awalnya Zello tak ingin pulang tapi ternyata perasaan nya malah membuatnya berjalan pulang karena terus terlihat wajah Sheza
"Kenapa kamu selalu membuatku kaget?"
Sheza dan Zello terus berdebat tanpa sadar. Ponselnya masih tersambung dengan Salsa.
Zello berjalan mengitari sofa lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Sheza.
"Zello, kenapa malah tidur disini?"
Sheza ingin mendorong kepala Zello tapi Zello malah memeluk perut Sheza dengan erat. Akhirnya Sheza membiarkan Zello melakukan apa yang dia inginkan. Terlihat sekali dari wajahnya jika Zello lelah.
Tangan Sheza bergerak sendiri, mengusap rambut Zello dengan lembut.
Tubuh Zello menegang, tapi senyum samar terbit di wajah tampannya. Dia menikmati usapan Sheza di kepalanya.
"Kenapa?" tanya Sheza lirih.
Zello melepaskan pelukannya pada perut Sheza lalu berbalik melihat ke arah Sheza.
Tapi tangannya meraih ponsel Sheza yang masih menyala telfonnya.
"Jangan ganggu, kamu nggak punya hak mengatur hidup Sheza. Dan satu lagi, jangan ganggu istriku!!"
Zello mematikan sambungan telfon itu, menaruh ponsel Sheza tanpa peduli dengan Salsa yang akan mengamuk kembali. Sheza yang mendengar semua yang di katakan Zello tersenyum.
Dia menunduk lalu mencium bibir Zello sekilas.
Mata Zello membola, saat Sheza ingin melepaskan ciuman itu Zello menahan tengkuk Sheza, menekan kepala Sheza agar ciuman mereka lebih dalam.
Hampir beberapa menit mereka berciuman tapi Sheza memukul d**a Zello pelan.
"Zello apa kamu ingin mematahkan leherku?" omel Sheza.
Zello terkekeh, dia meraih kepala Sheza lalu menciumnya kembali.
Zello bangkit dari posisinya, meraih pundak Sheza dan membawa tubuh Sheza ke dalam pelukannya.
"Aku nggak kenapa napa, hanya banyak pekerjaan. Kamu nggak usah ikut mikirin aku, fokus sama dirimu sendiri dan kebahagiaan mu. Jangan biarin orang lain mengacaukan pikiranmu. Juga harus kamu ingat, siapapun kamu, bagaimana pun kamu, aku nggak akan membiarkan mu sendiri."
Sheza masih diam antara percaya dan tidak dengan apa yang di katakan oleh Zello saat ini. Tapi dengan adanya Zello dia bisa membuat Salsa semakin gila dan tertekan. Dia akan merebut kembali apa yang seharusnya jadi miliknya. Selama ini, dia sudah banyak mengalah karena semua yang dia miliki di berikan dengan Salsa.
Terlebih mengingat Tora selalu membela Salsa dan menyalahkannya tanpa melihat dari semua sisi.
Mata Sheza melihat ke dalam mata Zello. Tak ada keraguan disana.
"Zello, apa aku bisa menjadikan mu tempat bersandar? Apa keluargamu bisa menerima ku? Di luar sana banyak selentingan nggak bagus soal aku. Mereka selalu mengatakan aku anak haram dan juga aku seorang model yang juga terkenal banyak scandalnya. Apa kamu nggak akan kesulitan?" tanya Sheza memastikan.
Zello menarik tengkuk Sheza menciumnya kembali, kali ini bukan ciuman menuntut yang penuh hasrat. Tapi ciuman yang membuat Sheza merasa aman dan di sayangi.
"Aku tak peduli, kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau. Dan sepertinya tanpa aku pun sebenarnya kamu bisa membalas mereka semua. Hanya saja mungkin kamu masih mencari jalan yang tepat."
Sheza tersenyum, dia terus menatap wajah tampan Zello yang memang tampan menurutnya. Pantas jika banyak wanita yang tak segan telanjang di depan Zello demi mendapatkan Zello. Meskipun tak bisa menjadi pasangan Zello tapi mereka rela naik ke atas ranjang Zello.
"Zello, boleh aku hancurkan mereka memakai namamu?" tanya Sheza getir.
Selama ini dia berusaha sendiri, berdiri sendiri menggunakan kakinya. Dan saat ini dia mempunyai Zello sebagai kaki dan tangannya.
Zello melihat semua kesakitan Sheza dalam sorot matanya. Entah berapa banyak sakit yang di berikan keluarga nya sampai dia serapuh ini. Zello mengingat pertemuan pertama mereka di pesta beberapa waktu lalu. Sheza dengan ekspresi wajahnya yang berbeda saat bersamanya, tapi berbeda lagi saat melihat Salsa ada disana.
Zello bukan orang polos yang tak tahu semua ekspresi wajah Sheza yang berubah ubah. Dan sejak awal Zello juga tahu, jika Sheza sengaja memakainya untuk membalas perbuatan Salsa.
Meksipun itu menghancurkan harga dirinya.
"Pakai sampai kamu puas, asal kamu mau menikah sah dengan ku. Dan dengan begitu aku bisa mendukungmu dalam segi apapun."
Sheza mencium Zello lebih dahulu, ciuman menuntut dengan semua rasa sakitnya.
"Salsa, kita lihat sejauh mana rasa sakit mu bakal bikin kamu jadi lebih gila dari pada ini!"
#
Di rumah Salsa kembali mengamuk, dia jelas mendengar suara Zello yang bicara. Bahkan Zello juga mengancamnya dengan nada dingin dan marah.
"Tidak, Zello milikku. Anak haram itu nggak berhak dapatin Zello. Selama ini, semua yang dia punya sudah aku ambil. Jadi kali ini pun aku akan ambil Zello jika dia bersama Zello. Jangan salahin aku Sheza kalau setelah ini nyawamu pun akan aku ambil!"
Salsa menghubungi orang yang akan dia suruh untuk melaksanakan rencananya. Dia akan membuat Sheza menyesal sudah melawannya sejauh ini.
to be continued