Bab 2

1007 Kata
Pagi hari ..... Mata Zello terbuka lebih dahulu, memegang kepalanya yang terasa pusing. Saat dia ingin bangun, tangannya terasa berat. Dia menoleh, matanya membeliak melihat seorang wanita masih tertidur pulas di pelukannya. Zello mencoba mengingat apa yang terjadi dengan mereka semalam. Ingatannya berkelana pada saat malam panas Zello dengan wanita itu. Senyum tipis muncul di wajah tampannya. Dia merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu. Zello membiarkan tangannya menjadi bantal tidur Sheza. Dia mengambil ponselnya lalu menyuruh Raka mencari tahu tentang apa yang terjadi. Terutama siapa yang menaruh obat kepada minumannya. "Bawakan aku baju ganti!" Setelah memberi perintah pada Raka, Zello kembali merebahkan dirinya dengan posisi menyamping ke arah Sheza. "Wanita ini yang semalam mengguyur jas mahal ku. Cantik juga ternyata." gumam Zello pelan. Dia terus mengamati wajah Sheza yang masih tertidur nyenyak. # Setengah jam berlalu, terdengar ketukan di depan pintu kamar itu. Dengan gerakan perlahan, Zello bangkit dari tidurnya meraih celananya. Ceklek.... Terlihat Raka yang berdiri di depan pintu membawa dua paper bag yang Zello pesan. Mata Raka melirik ke dalam dan melihat seorang wanita yang masih tertidur pulas disana. "Mau ku congkel mata kamu?" Raka menundukkan wajahnya dan memberikan baju yang Zello pesan. "Tunggu di depan!" Setelah mengatakan itu, Zello menutup pintu, masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Saat Zello sudah masuk ke dalam kamar mandi, mata Sheza mulai terbuka. Dia memindai seluruh ruangan itu, matanya menyipit mulai mengingat apa yang terjadi padanya semalam. Sekelebat bayangan, dimana dia meladeni apa yang Zello mau. Bahkan berkali kali dia mendesah di bawah tangan kekar Zello. Wajahnya mulai memanas mengingat adegan dimana Zello terus menciuminya dengan ganas. "Kamu sudah bangun ternyata." Sheza menoleh, dan matanya melotot saat melihat Zello keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk mandi sepinggang. "Kenapa kamu nggak pakai baju?" pekik Sheza tertahan. Sheza menutup wajahnya dengan selimut. Sedangkan Zello terkekeh, rasanya lucu sekali melihat reaksi Sheza saat ini. "Kamu sudah menikmatinya semalam, kenapa masih malu?" goda Zello. Blush ... Wajah Sheza semakin memerah, dia merutuki kebodohannya karena bangun kesiangan. Seharusnya dia bangun pagi dan kabur dari sana. "Bersihkan dirimu, aku di depan. Setelah ini ada yang harus kita bicarakan!" Tanpa menunggu jawaban Sheza, Zello keluar dari kamar itu untuk menemui Raka yang sudah menunggunya sejak tadi. Sedangkan Sheza kembali merubah ekspresinya kembali ke ekspresi aslinya. "Nggak apa apa aku berkorban sekali lagi jika itu bisa menghancurkan Salsa. Karena aku pastiin jika Zello nggak akan mau meliriknya sama sekali." # Di luar kamar, Raka yang sejak tadi menunggu Zello langsung berdiri. Dia sedikit menundukkan kepalanya saat Zello tiba disana. "Ini berkas yang tuan minta semalam." Zello menerima berkas pemberian Raka dan mulai membacanya. Identitas Sheza sebagai seorang model juga ada disana. "Di luar sana banyak gosip yang mengatakan jika nona Sheza adalah perempuan nakal. Dia menghalalkan segala macam cara untuk mempertahankan namanya di dunia model." Gerakan tangan Zello terhenti, mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Raka. Dia tersenyum samar karena dia tahu faktanya seperti apa. Lalu Zello melanjutkan membaca semua informasi tentang Sheza. Dan matanya menyipit ketika mendapati fakta lain jika Sheza adalah putri kandung di keluarganya tapi di rumorkan menjadi anak haram yang di bawa ke rumah itu. "Apa kamu sudah menemukan siapa yang memberikan obat itu kepadaku?" "Nona Salsa, saudara angkat Nona Sheza. Tapi nona Salsa tidak tahu jika tuan sejak semalam bersama nona Sheza." jelas Raka lagi. "Hapus CCTV dimana aku dan Sheza masuk ke kamar ini. Dan awasi terus apa yang wanita sialan itu lakukan. Jangan sampai dia membuat ulah lagi!" Raka mengangguk mengerti, dia sempat heran dengan semua perintah yang di berikan oleh Zello kepadanya. Tapi detik berikutnya Raka berdehem saat melihat bekas merah di leher Zello yang mulai berubah keunguan. "Mereka berdua menikmati malam panas bersama ternyata." batin Raka. Zello terus membaca semua informasi mengenai Sheza. Tangannya sedikit meremas berkas itu saat Zello membaca sampai dimana Sheza sejak kecil disiksa. Dan Zello mulai mengingat ketika di bagian pinggang Sheza ada bekas luka yang mulai samar tapi Zello yakin bekas luka itu tak akan pernah hilang. "Ada lagi yang tuan butuhkan?" Raka mencoba bertanya kembali untuk memastikan jika Zello butuh sesuatu lagi. Saat Zello ingin menjawab pertanyaan Raka, Sheza keluar dari dalam kamar dengan sudah berganti pakaian. Dua laki laki itu menoleh bersamaan ke arah Sheza. "Bisakah aku pulang sekarang?" Zello menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Sheza. Tanpa menunggu banyak tanya lagi Zello bangkit dari duduknya. "Aku yang antar. " Kepala Shesa yang sejak tadi menunduk tak berani melihat Zello langsung terangkat. "Tidak, aku bisa pulang pakai taxi." tolak Sheza "Aku antar atau tidak pulang sama sekali." Mata Sheza dan Raka melotot bersamaan. Raka tak habis pikir dengan cara yang di pakai Zello untuk menahan Sheza saat ini. Berbeda dengan Sheza yang mulai panik karena Zello akan mengantarnya pulang. "Tak ada jawaban berarti pulang sama aku." Setelah mengatakan itu, Zello menarik tangan Sheza untuk membawanya pergi dari sana. Raka yang masih berdiri di tempatnya di buat bingung oleh sikap Zello. Raka tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Zello yang memanggil namanya. Dengan langkah tergesa, Raka menyusul Zello yang sudah berjalan meninggalkan kamar hotel itu. # Disisi lain.... Di rumah Sheza sedang terjadi ketegangan disana. "Pa, aku nggak tahu kakak dimana. Semalam aku bertemu dengan kakak di pesta itu. Tapi saat pesta belum selesai aku sudah kembali ke apartemen." adu Salsa pada papanya. Sedangkan wanita paruh baya di sebelahnya hanya diam saja dan tak ikut campur. Tora menggebrak meja karena merasa jika Sheza semakin hari semakin liar. Dia tak kembali pulang sejak semalam di tambah aduan Salsa yang melihat jika Sheza pergi bersama seorang laki laki. Salsa juga memberikan bukti yang dia punya pada Tora. Hal itu lah yang membuat Tora semakin marah. Saat Tora sudah marah, terlihat Sheza memasuki rumah itu dengan tenang. Tak ada ketakutan di wajahnya. Karena dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Plak... Benar saja, saat Sheza masuk ke dalam ruang tamu itu sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Sheza. pelakunya tak lain tak bukan adalah papa kandungnya sendiri. "Masih berani kamu pulang?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN