Bab 3

1012 Kata
Sheza memegang pipinya yang panas karena tamparan Tora kepadanya. Dia menatap Tora marah, sedangkan Tora terkesiap dan melihat tangannya sendiri yang sudah menampar Sheza. Salsa dan ibunya tersenyum lebar saat melihat adegan di depan mereka. "Wah, sudah main tangan ternyata." ucap Sheza dingin. Tak ada rasa takut di wajahnya, hanya ada rasa marah dan terluka. Sedangkan Tora merasa jika akan ada hal lain yang Sheza lakukan setelah ini. "Tentu saja aku menamparmu, kamu bahkan berani pulang pagi hari. Dimana kamu semalam? Adikmu mengatakan kalau kamu pergi dengan laki laki!!" Sheza sudah bisa menduga jika Salsa dengan cepat mengadu pada Tora jika dia tak pulang semalaman. "Oh, jadi dia mengadu pada papa? Wah, rajin sekali dia memantau hidupku!" sindir Sheza pada Salsa. Salsa gelagapan saat Sheza menatapnya tajam. "Kak, aku nggak ngadu. Papa tanya dimana kakak, aku hanya memberitahu tentang kakak kepada papa. Dan lagi kakak semalam kemana? Aku juga lihat kakak pergi bersama seorang laki laki? Apa itu pacar Kakak?" Salsa terus mengoceh panjang dan itu membuat Sheza muak. "Itu bukan urusanmu, jadi lebih baik mulut kotormu itu diam dan jangan ikut campur!" Nada bicara Sheza mulai meninggi karena dia merasa jika Salsa kali ini sudah melewati batas kesabarannya. "Sheza jangan membentak adikmu!" Kali ini suara Tora mulai meninggi karena dia merasa jika Sheza kelewat batas. "Bela saja terus meskipun papa tahu aku seperti apa. Ah, dan lagian aku pulang cuma mau ambil barang barang aku. Jadi setelah ini, kalian nggak perlu repot melihat wajah ku atau kesal dengan ku!" Setelah mengatakan itu, Sheza pergi begitu saja dari hadapan Tora yang terlihat bingung. Begitu juga dengan Salsa dan Nana. Tapi kebingungan mereka terjawab sudah saat Sheza kembali turun membawa sebuah koper baju miliknya. "Mau kemana lagi kamu?" bentak Tora. Sheza menghentikan langkahnya, tanpa berbalik dia menjawab pertanyaan sang papa. "Pergi dari rumah yang sudah seperti neraka buatku!" Tora tercengang begitu juga dengan Nana dan Salsa. Tapi melihat Sheza tak menoleh kembali ke belakang membuat Salsa tersenyum puas. Tanpa dia repot memikirkan cara yang lain untuk mengusir Sheza ternyata Sheza lebih memilih untuk pergi sendiri. "Tahu diri juga dia!" Batin Salsa. Tapi detik berikutnya Salsa penasaran dengan siapa dia pergi. Pasalnya selama ini Sheza tak pernah dekat dengan siapapun. Dan foto yang di berikan kepada Tora ada foto orang lain yang di dandani seperti Sheza agar Tora percaya jika mereka adalah pasangan kekasih. Salsa berlari ke depan ingin tahu siapa yang membawa Sheza. Tapi terlambat, mobil yang membawa Sheza sudah melaju pergi dari depan rumah Tora. "Siapa mereka? Kenapa Sheza bisa pulang dan pergi dalam keadaan di kawal seperti itu?" Salsa penasaran, tapi dia tak mengenali mobil milik siapaa yang membawa Sheza pergi. Tora membanting guci mahal yang ada disebelahnya. Apa yang di lakukan Sheza begitu cepat sehingga dia tak bisa menahan kepergian Sheza saat ini. Nana yang sejak tadi diam menghampiri Tora, mengusap pundak suaminya itu agar tak kembali marah. "Pa, tenanglah. Sheza pasti hanya marah sesaat. Dia akan kembali pada kita. Dia tak bisa apa apa diluar sana tanpa bantuan kita. Jangan khawatir berlebihan." Tora mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. Apa yang dikatakan istrinya itu benar. Selama ini semarah marahnya Sheza pasti dia akan pulang. Meksipun di rumah itu dia akan disiksa tapi Sheza tetap jadi anak yang penurut bagi Tora. "Mama benar, dia nggak punya apa apa, dia pasti kembali!" Nana tersenyum samar melihat Tora yang sudah marah pada Sheza. Sepertinya rencananya dan juga Salsa berhasil. # Sementara itu, di dalam mobil. Sheza terlihat diam, Zello yang ada di sebelahnya merasa aneh. "Kamu nyesel pergi dari rumah itu?" Sheza mengangkat kepalanya, tapi mata Zello membola saat melihat pipi Sheza merah bekas tamparan. "Siapa yang lakuin ini sama kamu?" Nada bicara Zello berubah dingin, Zello menarik dagu Sheza agar Sheza mau melihat ke arahnya. "Jawab, kamu punya mulut!" geram Zello. Sheza menepis tangan Zello dan membiarkan Zello marah kepadanya. "Kalau kamu memilih diam, aku sendiri yang akan cari tahu. Dan aku akan patahkan tangannya yang sudah berani menamparmu!" Sheza memejamkan matanya saat mendengar suara Zello meninggi. "Nggak usah di cari tahu, aku sendiri yang akan mengurusnya!" Sudah banyak rencana yang ada di kepala Sheza untuk membalas perbuatan Salsa kepadanya. Terlebih saat ini, Sheza bisa membuat Zello berada di sampingnya dan mendukungnya. Mobil bergerak menuju tempat tinggal Sheza yang baru dan itu juga atas paksaan dari Zello. Tentu saja dia tak akan menolak apa yang di berikan Zello kepadanya. Dia akan menggunakan itu untuk melawan keluarganya terutama Salsa dan ibunya. Tak lama, mereka tiba di kediaman Zello. Sebuah hunian yang menurut Sheza terlalu besar jika dia tinggal disana sendirian. Raka membantu Sheza menurunkan kopernya, berbeda dengan Zello yang masih berada di dalam mobil. "Tinggal disini, kamu bebas melakukan apa saja disini. Aku langsung pergi!" Sheza mengangguk, dia tak peduli Zello akan melakukan apa. Yang terpenting saat ini dia bisa keluar dari rumah itu. Meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Raka yang melihat Zello diam di dalam mobil merasa aneh karena dua orang ini seperti orang perang dingin. Zello yang melirik Sheza sudah masuk ke dalam rumahnya berdecak kesal. Seperti nya apa yang mereka lewati semalam tak berarti apa apa buat Sheza. "Tuan muda, kita mau kemana?" "Perusahaan, tapi batalkan semua meting yang ada hari ini!" Raka ingin membantah tapi melihat wajah Zello yang masam Raka memilih untuk diam. Selama dalam perjalanan Zello terlihat berpikir serius. Tapi berkali kali juga dia terlihat menghela napas nya panjang. "Tuan muda, kita sudah sampai." Zello sedikit tersentak saat Raka memberitahu mereka jika mereka sudah sampai di perusahaan. "Raka, apa yang membuat wanita kesal dengan pasangannya?" tanya Zello tiba tiba. Uhuk.... Raka tersedak ludahnya sendiri, dia melirik tuannya dari kaca spion. "Memang tuan sudah punya status yang pasti dengan nona Sheza?" celetuk Raka tanpa sadar. Mata Raka membola saat menyadari perubahan wajah Zello saat ini. Tapi Zello tak marah, dia hanya menendang kursi yang di duduki Raka saat ini. Duk.... Setelah melakukan itu, Zello turun dari dalam mobil di ikuti oleh Raka. Aura Zello saat ini membuat semua orang merasa takut. Apalagi Zello datang dengan wajah masamnya. "Tuan muda sepertinya sedang red Day!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN