Menggunakan ojek online, kendaraan umum favorit Asri, ia akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah Avan, di mana suaminya berada. Ada-ada saja, ngidam harus sampai diinfus. Ia berharap, tak terjadi sesuatu yang buruk. Ia tak mau, anaknya harus lahir tanpa ayah. Ya, gengsinya memang tinggi. Lebih tepatnya bukan gengsi, tetapi ia hanya ingin mengetes sejauh mana perjuangan sang suami untuk memperjuangkannya. Meskipun, ia pun ikut merasa tersiksa. Saat orang yang dirindukan ada di depan mata, namun ia mengabaikannya. Maklum saja, hormon kehamilan memang membuatnya labil. Sampai di depan rumah Avan, rumah yang dulu sempat beberapa kali ia kunjungi, Asri turun dari sepeda motor, lalu membayar ongkosnya. Setelah driver ojek pergi, wanita itu pun beranikan diri melangkah. Kemudian mengetuk bend