"Mami di sini!" Bebe segera berteriak ketika dia melihat Yogi yang tengah terduduk di sebuah kursi taman tak jauh dari rumah hantu.
Yogi memiliki asma dan tiba-tiba saja kambuh setelah ia keluar dari rumah hantu tadi. Rasanya seperti kekurangan oksigen, ia memutuskan untuk duduk di kursi. Sementara memilih tak peduli saat Rei dan juga yang lain melangkahkan kakinya untuk menuju ke wahana lain.
"Papi nggak apa-apa? Papi kenapa?" Bebe bertanya karena ia merasa cemas dengan Yogi. Anak itu duduk di samping Yogi, kemudian menepuk-nepuk punggung Yogi yang terduduk lemas.
Yogi tersenyum, dia senang sekali mendapat perhatian seperti itu dari strawberry. "Papi nggak apa-apa sayang, cuman Papi ada asma dan tadi kambuh habis keluar dari ruangan itu."
Saat itu Rei dan juga Tedi berlari menghampiri. Mereka juga cemas dengan keadaan Yogi.
"Kamu nggak apa-apa kan pak?" Rei bertanya pada Yogi. Wanita itu kemudian duduk di samping Yogi, dia menyentuhkan k pria itu, dan juga membuka kancing kemeja Yogi karena melihat nafas yang terengah-engah.
Mendapat perlakuan seperti itu Yogi dengan cepat segera memegangi kemejanya. Rej dan Yogi kemudian saling bertatapan situasi di antara mereka mendadak saja menjadi canggung. Rei lalu menjauhkan tangannya dari Yogi.
"Saya cuma mau buka kerah kemeja Bapak, karena nafas bapak sesak." Ya, itu memang yang mau dilakukan oleh Rei. Hanya saja itu membuat Yogi merasa sedikit malu.
Sementara Tedi menyaksikan interaksi di antara keduanya. Ada sedikit rasa cemburu, dan rasa kesal juga kenapa Yogi harus sakit di saat seperti ini?
"Gimana kalau kita pulang aja? Supaya Pak Yogi bisa istirahat."
Yogi melambaikan tangannya, dia tak ingin merusak liburan Bebe. "Kalian lanjut jalan-jalan aja dulu, tadi saya udah pakai inhaler kok. Tinggal nunggu better aja," kata Yogi.
"Kita pulang aja ya Papi? Bebe udah seneng banget kok, karena tadi udah lihat lumba-lumba." Strawberry buka suara, jujur saja dia merasa cemas dengan kondisi Yogi.
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang. Rei duduk di belakang bersama Yogi, karena kondisi Yogi lemas jadi dia sengaja menemani di belakang. Lalu strawberry duduk bersama Tedi di depan. Jangan ditanya betapa senangnya Yogi saat ini. Dia telah merasa menang dari Tedi. Sejak tadi Yogi menahan diri untuk unruk tak tersenyum.
"Bebe mau makan engga?" tawar Tedi.
"Gimana kalau makan di rumah saya aja mas? Kebetulan di kulkas masih ada ayam ungkep, sama rajangan sayur sop yang udah saya bikin tadi. Kalau mau makan di sana aja kita sama-sama, lagian kayaknya Pak Yogi masih lemes banget." Rei mencoba memberikan saran. Kemarin dia sudah membuat ayam ungkep yang tinggal digoreng, niatnya hari ini memang memasak ayam goreng dan juga sop bakso ikan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rei membuat Yogi menganggukkan kepala. Dengan tatapan memelas yang dia buat-buat. "Saya lemes banget nih Pak Tedi."
Sebenarnya si pemilik senyum kotak yang kini tengah duduk di belakang kursi kemudi itu,merasa kesal sekali dengan kelakuan Yogi. Tahu, kalau Yogi tengah berpura-pura. Tapi dia tidak ingin memperburuk penilaian Rei terhadapnya.
"Ya udah, kalau kayak gitu kita ke rumah kamu aja. Biar Pak Yogi juga bisa istirahat sebentar. Nanti kan dia bisa panggil sopirnya buat jemput."
Mobil itu kemudian melaju menuju rumah Rei. Perjalanan berjalan cukup lancar karena hari ini hari libur jadi tak ada bentrokan dengan orang-orang yang kembali dari bekerja. Bebe bahkan tertidur anak itu sangat kelelahan hari ini tapi jelas dia sangat bahagia.
"Biarin Strawberry saya bangunin aja Pak Nggak usah digendong," kata Rei.
Tedi menoleh ke belakang ketika mobil berhenti. "Nggak papa biar aku gendong dia ke dalam. Lagian kasihan kalau dia dibangunin."
"Biar saya—" Yogi mau menggendong Bebe sebelum tedi memotong ucapannya.
"Bapak lagi sakit enggak usah macem-macem. Kalau kenapa-napa malah kasihan Rei."
Rei gelengkan kepala sebal dengan pertikaian diantara keduanya. "Ya udah, daripada berantem mendingan kita keluar dari mobil."
Rei keluar dari pintu yang lain kemudian dia berjalan menuju sisi lain pintu, dimana Yogi duduk di sana, kemudian membantu pria itu untuk bangun dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Tedi mengikuti dari belakang, setelah Rei membantu Yogi untuk duduk di sofa ruang tamu, ia segera berjalan Untuk mengantarkan Tedi ke kamar putrinya.
Dengan berhati-hati Tedi merebahkan tubuh Strawberry, perlahan takut terbangun karena dipindahkan tidurnya. Setelahnya ia berjalan keluar bersama Rei setelah selesai.
"Terima kasih Mas, Udah mau bantuin aku udah mau juga ngajak Bebe jalan-jalan." Rei ucapkan.
"Kamu nggak perlu berterima kasih. Aku juga senang bisa jalan-jalan sama kamu dan Bebe juga." Tedi katakan itu rasanya senang bisa berjalan-jalan bersama wanita yang disukainya.
"Iya, aku tetap berterima kasih sama kamu Mas. Tunggu di ruang tamu dulu ya, aku mau bersih-bersih terus aku masak buat kamu sama Pak Yogi."
"Iya, makasih ya." Tedi berucap, lalu dia berjalan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu Ada Yogi yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa. Badannya masih terasa lemas akibat asmanya yang tiba-tiba saja kambuh. Sebenarnya dia merasa malu dengan apa yang terjadi. Tapi Selama perjalanan bersama dengan Rei, sepertinya rasa malunya pun luntur dan dia menikmati sakit yang tengah dia derita kini.
Tedi duduk di samping Yogi. "Seharusnya kalau kamu takut masuk ke rumah hantu tadi, pak Yogi nggak usah ikutan."
Dikatakan penakut tentu saja membuat Yogi merasa tak terima. "Aku bukannya penakut tapi memang di ruangan itu rasanya oksigennya kurang banget. Jadi begitu keluar Saya jadi sesak nafas."
Tedi gelengkan kepalanya, padahal sudah jelas-jelas kalau Yogi takut, tapi tetap saja tak mau mengaku. Ya tentu saja Yogi tak bisa mengakui itu. karena akan menghancurkan image-nya di depan Tedi, yang jelas-jelas adalah saingan beratnya.
"Pak Yogi udah hubungin sopir?"
Yogi menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia memang meminta sopirnya untuk menjemput, hanya saja dia meminta untuk dijemput 2 jam lagi.
Keduanya terdiam Tedi sibuk membaca artikel bisnis dari ponsel miliknya. Sementara Yogi hanya rebahkan tubuh di sofa. Masih terasa lemas setelah sesak nafasnya kambuh tadi. Jadi dia sengaja beristirahat sambil memejamkan mata meski tidak benar-benar tidur.
Sementara itu Rei di dapur menyibukkan diri dengan memasak makan malam untuk kedua pria yang tengah memperebutkan dirinya. Menunya adalah ayam goreng dan juga sop bakso ikan seperti rencananya.
"Nanti mereka ribut kayak waktu di kantor nggak ya?" Rei bergumam. Takut juga membayangkan keduanya saling adu mulut seperti saat berada di kantor tempo hari.
Memasak itu semua tak terlalu sulit. ketika sudah matang, Dia segera berjalan ke ruang depan untuk menghampiri Yogi dan Tedi.
"Makan malam yuk."