Sementara itu di luar rumah Rei ada sebuah mobil yang sedang berhenti. Dan itu adalah Jun yang tengah mengawasi sang adik. Sebenarnya hari ini ia berniat untuk bertemu langsung, hanya saja sepertinya Rei sedang didatangi beberapa tamu jadi dia memilih untuk melihat dari luar saja.
"Itu bukannya Pak Yogi sama Pak Tedi ya pak?" Sopir di kursi depan bertanya kepada Jun. karena mereka cukup akrab dan memiliki kerjasama dengan Jun.
Jun melakukan kepalanya. "Saya nggak nyangka kalau mereka ternyata bertiga saling mengenal satu sama lain."
"Sepertinya hubungan mereka itu masih baru deh Pak. Karena waktu saya ikut terakhir kali mereka nggak pernah kelihatan kecuali pak Tedi memang sering mampir ke klub."
*Kalau gitu kita pulang aja. Kita ke sini lagi besok." Jun bertitah dia merasa lebih baik untuk kembali ke rumah.
"Baik Pak." Mobil kemudian berputar arah, untuk segera mengantarkan Jun kembali ke apartemen.
Sementara itu kini Tedi, Yogi dan juga Rei sama-sama berada di meja makan. Makanan sudah disajikan, dan masih hangat. Rei membantu keduanya untuk makanan di piring dan mangkuk makan keduanya.
"Sayur sopnya sengaja dipisah ya. Kalau doyan sambal kecap, bisa ditambahin sambal kecapnya. Karena aku suka makan sayur dan nasi itu terpisah." Rei menjelaskan sambil menuangkan sayur sop, kemudian memberikan kepada Tedi dan Yogi.
"Kamu emang paling jago masak." Tedi mengungkapkan pujian Setelah dia mencicipi sup yang sudah tersaji.
"Muji-muji, cari-cari empati." Yogi menyindir Tedi.
"Ya nggak apa-apa. Karena emang rasa sopnya enak," ujar Tedi cuek.
Rei sejujurnya cukup kesal dengan tingkah yoga yang terlalu blak-blakan, tapi memang sepertinya sikap Yogi memang seperti itu. "Dimakan aja yuk. Rasanya kalau terlalu banyak pembahasan nanti makanannya jadi cepat dingin."
"Di rumah hantu tadi Pak Yogi gemetaran terus." Tedi buka suara.
Yogi terbatuk mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Tedi. Pria itu sedang mencicipi subkoma dan dia terkejut saat tiba-tiba saja Tedi membahas masalah ini. Rei segera menuangkan air dalam gelas, Dia kemudian mengambilkan air minum dan ingin memberikannya kepada Yogi. Tedi meminta dengan sopan dan ia sendiri yang memberikan kepada Yogi karena posisi duduk mereka yang lebih dekat.
Yogi melirik Tedy dengan kesal. Kenapa juga harus teh Dia memberikan air putih itu kepadanya? Padahal tadi sudah betul kalau Rei yang akan memberikan sendiri.
"Karena ruangan itu dingin dan gelap, oksigennya juga sepertinya kurang jadi bikin asma saya jadi kambuh." Yogi kini membela dirinya karena dia tak mau juga dipermalukan oleh Tedi.
Rei memegang tangan Tedi, membuat pria itu kini menatapnya. "Udah ya mas, kita makan aja dulu." Sebenarnya dia juga jadi bingung sendiri bagaimana menghadapi dua pria di hadapannya kini.
"Iya," shaut Tedi.
Suasana hening sejenak ketiganya menikmati makan malam mereka. Cuaca malam yang dingin memang paling pas menikmati semangkuk sop panas, apalagi ditambah dengan sambal kecap yang sedikit pedas.
"Besok pagi bisa kan aku jemput?" Yogi bertanya kepada Rei yang segera melirik ke arahnya.
"Besok kita mau ngapain ya Pak?" Rei bertanya sambil mengunyah bakso dalam.
"Ketemu Mami saya. Saya bilang saya punya pacar dan itu kamu."
Uhuukk!
Kini Rei yang terbatuk-batuk setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi. Tedi dengan cepat segera mengambilkan minum. Yogi tadi sudah bangun dari duduknya hanya saja kalah cepat dari Tedi.
"Maksud Pak Yogi?" Rei bertanya coba menanyakan apa yang dikatakan oleh Yogi tadi. Siapa tahu saja dia salah mendengar.
"Ketemu mami saya, kenalin kamu sebagai calon istri." Yogi menjawab dengan asal.
Kini malah Tedi yang tersedak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tedi. Rei memberikan air putih yang tengah ia genggam. Tedi segera menerimanya, dan hal itu membuat Yogi menatap dengan kesal. Karena gelas itu adalah yang digunakan Rei untuk minum. Menurut Yogi mereka berciuman secara tidak langsung.
"Maaf Pak saya enggak bisa."
Malam itu penolakan Rei menjadi penutup pertikaian di antara kedua pria itu. Yogi dan Tedi tadi membantunya juga untuk mencuci piring. Membuat pekerjaannya menjadi lebih ringan.
Setelah merapikan semua ia segera berjalan menuju kamar dan merebahkan tubuhnya di samping Bebe. Wanita itu memeluk Sang Putri kemudian mengecup pipi Strawberry. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka berdua. Tapi dia tahu kalau putrinya itu benar-benar merasa senang.
***
Pagi ini seperti biasa, hari ini Rei sudah disibukkan dengan kegiatan pagi. Dimulai dari membuat sarapan untuk Bebe, juga membersihkan rumah yang menjadi rutinitasnya sehari-hari setiap hari libur.
Strawberryi Tengah menikmati sarapan paginya. Sang Mami sudah membuatkan roti bakar dengan selai strawberry dan coklat, dan juga segelas s**u coklat hangat untuk disantap pagi ini.
"Hari ini kita di rumah aja ya nak? Kita holiday di rumah Karena kemarin kita kan udah jalan-jalan." Hari mengatakan itu sambil berjalan dan membersihkan karpet dengan vacuum cleaner di dekat Bebe.
Anak itu menganggukan kepalanya setuju . kemarin dia sudah merasa cukup puas dan senang karena bisa berjalan-jalan dan yang paling penting adalah bisa melihat lumba-lumba.
"Bee kemarin udah senang banget Mami karena bisa melihat lumba-lumba." Anak itu menceritakan dengan bersemangat. kemudian dia mengambil sepotong roti bakar dan menyantapnya. "Kemarin, Papi nggak apa-apa kan Mi?"
Rei anggukan kepalanya kemudian menjawab pertanyaan Sang Putri. "Iya, nggak apa-apa kok. Kemarin juga Mami bikinin makan malam sebelum dia pulang. jadi kamu nggak usah khawatir ya nak."
Strawberry mengganggukan kepalanya. merasa tenang juga setelah mendengar kabar Yogi yang baik-baik saja. Anak itu kembali menyantap roti bakar buatan Rei. Kali menggerakkan badannya sesuai dengan lagu yang sedang diputar di TV.
Bebe itu suka sekali mendengarkan lagu sambil menggerakkan tubuhnya. Sama seperti sang ayah yang juga memiliki bakat seni musik. Bumi suka sekali membuat lagu dan juga bermain piano. Hanya saja pria itu lebih tertarik pada fotografi.
Saat sedang membersihkan rumah, kemudian bel pintu berbunyi. Rei masih sibuk menyedot salah-salah sofa, kemudian Strawberry yang berlari keluar. Gadis itu melihat pada layar CCTV yang berada di kamar, baru berlari untuk membuka pintu. Rei memang meminta putrinya untuk melihat dulu Siapa yang datang.. Karena ia merasa tak mengenal pria itu, Strawberry kemudian kembali berlari masuk ke dalam rumah. Dia menghampiri sang Ibu dan berdiri tepat di samping Rei.
"Siapa tamunya?"
"Bebe nggak tahu siapa yang datang. Aku nggak kenal sama Om yang datang."
Rei jadi penasaran, ia kemudian segera Berjalan ke depan. Dia melihat dari balik kaca jendela. Rei terkejut dengan apa yang ia lihat.