"Mas Jun?"
Pria berlesung pipi itu, berdiri di depan rumah sang adik sambil membawa boneka beruang yang memeluk beberapa buah coklat. Jun tersenyum, kemudian membuka lebar tangannya. Rei menghambur dan memeluk sang kakak, tentu ia merasa rindu karena sudah lama sekali tak bertemu.
"Betah ya kamu, diam-diam gini?" Jun bertanya pada adik perempuannya.
Rei tak menjawab pertanyaan sang kakak dia hanya nyengir. Jun mengacak rambut adiknya itu. Keakraban keduanya membuat Bebe merasa bingung. Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan ujung pakaian yang dikenakan oleh sang mami.
Jun memerhatikan tingkah Bebe, sementara Rei mendekatkan putrinya kepada sang kakak. Jun begitu antusias melihat Strawberry. Pria itu sudah 4 tahun menikah dan sampai saat ini belum juga dikaruniai momongan. Jun merendahkan tubuhnya, kemudian memberikan boneka beruang memeluk coklat itu kepada Bebe.
"Ini buat Bebe," kata Jun.
Sebelum menerima apa yang diberikan oleh Jun, gadis kecil itu menatap kepada Rei meminta persetujuan sang mami. Setelah mendapatkan anggukan dari sang Mami, Dia segera menerima pemberian dari Jun. "Terima kasih."
"Sama-sama cantik." Pria itu kemudian menggendong Bebe.
"Masuk dulu mas. Kebetulan aku lagi bikin sarapan pagi. Nanti bisa sarapan bareng."
Rei mengajak sang kakak untuk menuju ruang tengah. Rei langkahnya ke dapur, sementara ia mendudukkan Strawberry di sebelahnya. Senang sekali melihat gadis kecil nan cantik di sampingnya itu.
"Mau dimakan coklatnya? "Jun menawarkan.
Bebe menggelengkan kepalanya, dia Takut dimarahi sang mami jika makan coklat pagi-pagi begini. "Enggak om. Nanti mami marah. Gigi aku bisa bolong-bolong. Nanti makannya siang aja."
Jun tersenyum, kemudian mencubit pelan pipi Bebe. "Pintar. Oh iya, mami pernah nunjukin foto opa sama oma? Nenek sama kakek?" Jun bertanya mencoba menerka, panggilan apa yang diterapkan Rei untuk memanggil kedua orang tua mereka.
"Mami kasih lihat foto Oma sama opa."
Setidaknya gadis kecil itu sudah melihat kakek dan neneknya. Jadi, jika mereka bertemu tak akan terlalu canggung.
"Mami nggak kasih tunjuk foto Om ke Bebe?" Jun bertanya, karena penasaran apakah sang adik tidak menunjukkan fotonya kepada Bebe yang terlihat tak mengenalnya.
Bebe berpikir, seraya mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu. Apa yang dilakukan oleh Strawberry membuat Jun tersenyum, merasa gemas dengan apa yang dilakukan oleh anak itu.
"Kayaknya mami pernah kasih tunjuk foto om deh. Cuma Bebe lupa. Sorry Om."
"Iya, nggak apa-apa sayang. Kalau gitu sekarang kamu nggak boleh lupa ya sama Om ya?" Jun bertanya, sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
Bebe mengaitkan kelingking kanannya kepada sang Om. "Aku nggak akan lupa sama Om."
Keduanya kemudian menunggu Rei sampai selesai memasak. Karena kedatangan Jun, dia juga membuatkan tumisan sayur, berbahan seadanya yang ia ambil dari kulkas. Sejak dulu Jun tahu kalau adiknya itu memang cukup pandai dalam memasak. Sudah lama juga tak menyantap masakan buatan Rei, jadi dia dengan setia menunggu pagi ini.
Setelah selesai sarapan, Rei meminta putrinya untuk ke dalam kamar. Hal itu dilakukannya karena ingin berbicara berdua bersama sang kakak. Rei membuatkan secangkir teh manis, kemudian mengajak Jun untuk duduk di ruang tamu.
"Kamu kenapa bisa ngembang kayak gini sih?" Jun bertanya sambil mencubit pipi adiknya itu dengan gemas.
"Sakit mas!" kesal Rei.
"Aku kan jadi gemuk setelah hamil anak pertama itu, terus keguguran dan nggak kurus juga. Terus berlanjut sampai hamil kedua."
"Habis itu diselingkuhin ya? Kasihan banget."
Rei menatap kesal pada sang kakak, Dia kemudian memukul paha Jun. Pukulan di paha itu cukup keras sehingga membuat Jun memekik kesakitan.
"Lagian sih, udah dibilangin sama papi masih nekat. Coba dulu akhirnya kamu nurut sama papi nggak akan jadi kayak gini."
Rei jelas menyesal, hanya saja ia tetap menerima. Karena dari pernikahannya itu, dia bisa memiliki seorang putri cantik dan pintar seperti Strawberry. "Mau marah, tapi aku tetap bersyukur Mas. Kalau enggak ketemu Mas Bumi. Aku enggak akan ketemu Bebe."
Jun tentu saja mengerti, dan dia bisa merasakan kalau sang adik bahagia hidup bersama putrinya. "Terus kapan kamu mau kenalin anak kamu ke Oma sama opanya?"
"Nanti ya Mas, kalau anak aku libur sekolah. Ini masih masuk dia. Aku nggak mau ganggu sekolahnya."
"Kalau gitu biar Mami sama papi aja yang ke sini. Biar mereka sekalian liburan."
"Memangnya Papi mau ke sini?"
"Mami pasti mau ke sini. Dia antusias banget waktu aku kasih lihat foto cucunya. Kalau Mami antusias, pasti dia bakal maksa Papi buat ikut datang ke sini kok. Kalau nggak kayak gitu, gimana keluarga kita bisa akur lagi. Gimana kita bisa kumpul lagi? Memang kamu nggak kangen sama mami dan Papi?"
Rei Tentu saja sangat merindukan kedua orang tuanya. Dia bahkansempat berniat untuk menghubungi sang Mami. Hanya saja mengurungkan niatnya itu.
"Kamu nggak ada niat mau pindah rumah? Anak kamu ada penyakit asma kan? Tadi Mas lihat di ujung dinding ruang tengah itu ada bocor? Ruangan agak lembab."
"Ada bocor sedikit mas, kalau hujan aja paling titik-titik doang kok."
"Kamu cari rumah yang lebih besar, atau boleh apartemen. jadi Mami sama papi bisa sering nginep ke sini." Jun mencoba menawarkan karena cukup miris melihat situasi rumah Rei saat ini. Karena menurutnya sang ayah pasti bisa memberikan yang lebih baik daripada itu.
"Tapi aku senang kok di sini Mas."
"Atau kamu cari rumah dekat sini yang lebih besar lagi. Nanti Mas bawain orang yang bantu-bantu dari rumah, jadi bisa bantuin kamu jagain Bebe. Lagian nanti uang buat beli rumah atau apartemen itu nanti pakai uang kamu." Jun tahu betul kalau adiknya itu sangat keras kepala dan juga tak mau merepotkan. Jadi biasanya akan menolak, kalau dia tahu akan menggunakan uang Jun ataupun kedua orang tuanya.
"Uang aku?"
"Kamu kebagian saham perusahaan kan? Semua keuntungannya Mas pisahkan dengan mas kelola secara terpisah. Jadi kamu tetap dapat bagianmu sendiri. Enak kan?" Jun mengacak rambut adiknya itu kemudian tersenyum.
Sebenarnya Rei juga memikirkan untuk pindah ke rumah yang lebih besar. Bukan hanya lebih besar tetapi juga dengan fasilitas yang lebih baik untuk putrinya. "Kalau seandainya aku cari rumah yang lokasinya dekat sekolahnya Bebe gimana Mas?"
"Kamu cari aja lokasinya, pastikan juga kamarnya cukup kalau ada tamu nanti. Masalah uangnya gampang nanti." Jun berkata, kemudian dia mengeluarkan dompet miliknya dan menyerahkan sebuah kartu kepada Rei. "Jangan terlalu sibuk di klub, nggak usah jadi guide lagi."
Rei menatap sang kakak sebenarnya sedikit terkejut juga ternyata orang tuanya menyelidiki semua hal tentang dirinya sampai ke pekerjaan yang ia jalani. "Ini?"
"Kamu pakai uang itu untuk kebutuhan kamu dan Bebe. Apa yang aku bilang tadi, Kalau aku pisahkan bagian kamu. Itu cuman sebagian kecil aja. Nanti, aku coba kasih tahu kamu semuanya setelah aku minta sekretaris aku untuk buat pembukuan ya?"
Rei gelengkan kepala. "Nggak usah Mas. Selama ini kan perusahaan Mas yang ngurusin. Kayaknya aku nggak pantas deh kalau dapat bagian."
"Tugas Kakak laki-laki itu seperti ini. Nggak usah bingung dan nolak lagi."
Setelah pembicaraan itu, Jun kemudian memutuskan untuk meninggalkan rumah sang adik. Ada perasaan lega dalam dirinya, karena berhasil memperbaiki hubungannya dan Rei. kini tinggal mempertemukan dengan kedua orang tua mereka. Jun berharap semua kembali seperti semula.
Rei kemudian melangkahkan kakinya masuk, belum sempat ia melangkah benar-benar masuk ke dalam rumah biar pintunya kembali berbunyi.
"Apalagi Mas?"
"Mas siapa?"