Mesin SUV berlapis baja itu masih berdengung rendah ketika keheningan di dalam mobil terasa semakin tebal. Levon bersandar dengan mata setengah terpejam. Wajahnya sudah terlihat letih. Ia sudah tahu ... atau setidaknya merasa tahu akhir seperti apa yang menunggunya di tangan Darco Konstantin. Namun, diq memilih diam, tanpa pertanyaan dan tanpa perlawanan. “Vercelli ... Levon Vercelli,” suara Darco terdengar dari bangku depan, santai tapi tajam. “Ternyata selemah ini seorang Levon Vercelli yang pernah menghancurkanku?” Levon hanya melirik sekilas. Tatapan singkat tanpa emosi, dan setelahnya ia kembali menatap ke depan. Darco mendecih kecil. “Ciih, Setidaknya ucapkan terima kasih,” lanjutnya. “Kau tidak mati di tangan keluargamu sendiri.” Hening untuk sesaat, kemudian kekehqn kecil pun k

