Suara itu terdengar lebih dulu, suara desahan kasar dari d**a Ellara, patah dan tak beraturan, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Dunia di sekelilingnya menyempit, menyisakan satu titik panas di perutnya, satu pusat amarah yang berdenyut seirama detak jantungnya. “Aku tidak—” napasnya tersendat. “—memilih ini.” Tangannya terangkat. Bukan ragu, bukan perlahan. Gerakannya meledak-ledak memberikan pukulan ke perutnya sendiri. Sekali, lalu lagi. Bukan karena sakit, melainkan karena putus asa mencari jalan keluar. Dokter Virsha melangkah cepat. “Nona Ella, hentikan!” suaranya tegas, berbeda dari sebelumnya. Ia meraih pergelangan tangan Ellara, menahan gerakan berikutnya sebelum sempat jatuh. Ellara meronta. “Lepaskan!” teriaknya. Matanya kosong, basah tanpa air mata. “Aku ingin memnuan

