Bab 19. Yang Tak Diharapkan

1213 Kata

Di sebuah ruangan yang serba putih, lampu neon di langit-langit menyala tanpa ampun, memantulkan cahaya dingin ke lantai keramik dan dinding yang bersih nyaris tanpa noda. Bau antiseptik menusuk hidung Ellara sejak ia melangkah masuk, bau yang selalu membuat dadanya terasa sesak, seolah tempat seperti ini tak pernah membawa kabar baik dalam hidupnya. Ia duduk kaku di kursi pemeriksaan, jemarinya saling mengunci di atas pangkuan. Detik demi detik terasa lebih panjang dari seharusnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan, bukan karena takut sakit, melainkan karena firasat yang sejak tadi menempel di kepalanya. Dokter itu akhirnya menoleh dari layar monitor. Ellara pun tanpa sadar mengikuti arah pandangannya secara refleks. Dan saat itulah … kedua matanya membelalak lebar. Di layar hitam-p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN