"Karena ayahku mati di tangan Lean." Darco menyandarkan tubuhnya ke meja, jemarinya mengetuk pelan permukaan kayu. “Jika memang begitu,” katanya dengan suara yang dingin dan tajam, “kenapa kau tidak langsung menyingkirkan Lean?” Ia menyipitkan mata. “Atau jangan-jangan kau terlalu pengecut, sampai harus bersembunyi di bawah ketiaknya sebelum akhirnya menikam dari belakang?” Beberapa anak buah Konstantin menahan napas. Darco selalu memberikan tekanan yang nyata dalam setiap ucaoannya. Daniel mengeraskan rahangnya, tapi Levon justru tersenyum tipis di ujung bibirnya. “Apa kau ingat, Darco,” ucap Levon pelan, “pembalasan itu tidak pernah boleh sederhana.” Ia mengangkat wajahnya sedikit. “Pembalasan itu harus seratus kali lebih kejam.” Untuk sesaat, mata Levon berkaca. Bukan air mata yan

