Brugh! Mata Vei melebar, dirinya begitu terkejut saat Gama tiba-tiba jatuh. Gama duduk bersimpuh di lantai, di sisi ranjang dengan kedua tangan bertumpu tepi ranjang seakan menahan tubuhnya tergeletak. Vei menatap Gama penuh selidik. Apakah Gama sedang berpura-pura? “Ini tidak lucu,” ucap Vei berharap dengan begitu Gama mengakhiri leluconnya. Namun, Gama tetap pada posisi. “Hei, cepat bangun.” Vei menggoyangkan tubuh Gama dengan menekan tangannya menggunakan kaki. Ia masih belum sadar bahwa Gama tidak baik-baik saja. Nafas Gama terengah, mulutnya sedikit terbuka guna bernafas karena hidungnya pengar. Padahal ia merasa kondisinya sudah lebih baik sebelumnya, tapi tiba-tiba saja demam kembali menyerang. Tak juga mendapat respon, Vei mendorong Gama menggunakan kakinya membuat tubuh