“Karina! Bangun!”
Suara itu terdengar jauh, Namun perlahan se makin jelas.
“Karina Holmes! Kamu mau terlambat?!”
Aku mengernyit. Cahaya terasa menyilaukan. Aku mencoba membuka mata dan bukan langit-langit mansion itu yang kulihat. Melainkan pemandangan sebuah kamar. Kamar yang sangat familiar.
Aku terdiam.Jantungku berdetak kencang. Aku duduk perlahan menatap sekeliling. Tidak mungkin, tanganku gemetar saat menyentuh seprai. Rasanya hangat dan begitu nyata.
Aku berlari ke arah cermin dan saat bayanganku terlihat, napasku terhenti. Mulutku, tidak mengeluarkan darah, tidak ada sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. Yang ku lihat aku, Karina Holmes, versiku lima tahun yang lalu.
---
Pagi itu terasa terlalu terang. Sinar matahari menembus tirai tipis kamarku, jatuh tepat di wajahku. Rasanya hangat, lembut dan terasa asing. Aku menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sudah beberapa menit terlewati karena shock aku bisa bangun dari kematianku sendiri dan hidup kembali di waktu lima tahun yang lalu.
Aku belum bergerak. Belum benar-benar berani, menerima kenyataan bahwa aku masih hidup. Aku benar-benar hidup. Tanganku terangkat perlahan, menyentuh dadaku. Detak jantungku terdengar jelas, kuat. dan teratur.
Tidak seperti malam itu, di mana setiap detakan terasa seperti akan menjadi yang terakhir. Napas panjang keluar dari bibirku namun bukannya lega, justru rasa sesak yang muncul.
Kenangan itu memperlihatkan, tatapan dingin Gio, suara tawanya dan kata-kata terakhirnya,
“Dan aku tetap tidak akan pernah mencintaimu.”
Tanganku mengepal tanpa sadar. Kuku-kukuku menekan telapak tangan hingga terasa sakit. Namun rasa sakit itu… justru menenangkanku. Sakit Ini nyata bukan mimpi. Aku benar-benar kembali.
---
“Karina! Kamu masih di dalam?!”
Suara dari luar pintu membuatku tersentak. Aku menoleh. Jantungku kembali berdegup kencang.
Suara itu…aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya. Dengan langkah cepat, aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Di sana, seorang wanita paruh baya berdiri dengan ekspresi kesal namun matanya hangat penuh perhatian.
“Tante…” suaraku tercekat.
Wanita itu mengerutkan kening.
“Kamu kenapa? Kamu baru bangun ya? Cepat siap-siap, kamu harus ke kantor hari ini.”
Air mataku langsung jatuh tanpa peringatan.
Wanita itu panik.
“Eh? Karina? Kamu kenapa?! Sakit lagi?”
Aku langsung memeluknya erat. Seolah kalau aku melepaskannya… dia akan hilang.
Di kehidupan sebelumnya, wanita ini meninggal dua tahun setelah aku menikah. Aku bahkan tidak sempat menemaninya di hari-hari terakhirnya karena aku terlalu sibuk menjadi istri yang baik bagi pria yang tidak pernah menganggapku apa-apa.
“Karina?” Panggilnya. Suara tante melembut.
Aku menggeleng, meski air mataku semakin deras.
“Tidak apa-apa… aku cuma…” suaraku pecah, “…kangen.”
Tante terdiam sejenak, ada raut khawatir saat memandangku sesaat lalu perlahan menepuk punggungku.
“Kamu aneh hari ini,” gumamnya, tapi ada senyum kecil di suaranya.
Aku tertawa pelan di antara tangisku.
Aneh?
Kalau dia tahu aku baru saja mati, mungkin dia akan bilang aku gila.
Setelah beberapa saat, aku akhirnya melepaskan pelukan itu. Aku mengusap air mataku, menarik napas dalam.
'Tenang Karina, kamu masih hidup Ini kesempatan keduamu. Jangan suia-siakan,' batinku.
“Tante,” panggilku pelan.
“Iya?”
“Hari ini…” aku ragu sejenak, “aku ada janji, ya?”
“Janji?” Tanyanya. Ia mencoba mengingat sesuatu dan mengangguk. “Iya, kamu nggak lupa kan, hari ini kamu akan ketemu keluarga Abraham.”
Dunia seakan berhenti ketika aku mendengar nama itu disebut.
Abraham.
Seperti palu yang menghantam kepalaku.
Hari ini adalah hari di mana semuanya dimulai. Hari di mana aku pertama kali bertemu Gio sebagai calon suami. Hari di mana aku jatuh ke dalam neraka yang sama sekali tidak kusadari. Tanganku perlahan mengepal. Aku tidak gemetar. Mataku justru menjadi dingin dan perasaanku tenang.
“Jam berapa?” tanyaku.
“Siang nanti. Mereka akan datang ke restoran untuk makan bersama keluarga.”
Tante menatapku curiga.
“Kamu kenapa? Dari tadi aneh banget. Biasanya kamu yang paling semangat kalau mendengar nama itu. Bukankah selama ini kamu sangat mengagumi sosok Gio, sekarang impian terbesarmu untuk menikah dengan lelaki yang sangat kamu cintai sebentar lagi akan terwujud,” ucap tanteku terlihat bahagia.
Aku tersenyum tipis.
Semangat?
Iya.
Di kehidupan sebelumnya, aku sangat menantikan hari ini. Karena ini adalah awal dari kisah cintaku yang ternyata… hanya ilusi.
“Kali ini…” gumamku pelan.
“Apa?”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Namun dalam hatiku aku sudah mengambil keputusan. Hari ini, aku akan mengakhiri semuanya. Bahkan sebelum semuanya dimulai.
---
Restoran tempat pertemuan kami masih sama. Aku masih ingat jelas sturktur bangunan itu. Terlihat mewah, elegan dan terasa seperti tempat di mana hidup seseorang bisa berubah hanya dalam satu pertemuan. Aku berdiri di depan pintu masuk, menatap ke dalam. Tanganku sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena aku tahu siapa yang akan kutemui di dalam sana.
Gio Abraham.
Pria yang membunuhku. Pria yang pernah kucintai lebih dari diriku sendiri. Napas panjang keluar dari bibirku. Lalu perlahan aku melangkah masuk.
Ruangan VIP itu sudah terisi. Di sana sudah ada keluargaku dan keluarga Abraham. Aku bisa merasakan tatapan mereka begitu aku masuk. Namun yang paling terasa adalah satu tatapan yang sangat familiar. Tatapan dingin dan tajam.nAku mengangkat kepalaku, dan di sanalah dia.
Gio Abraham.
Duduk dengan santai, mengenakan setelan hitam sempurna. Wajahnya sama seperti yang kuingat. Tampan, dingin dan tanpa emosi. Jantungku berhenti, kenangan itu kembali. Aku mengingat darah yang keluar dari mulutku, racun yang menyebar ke seluruh tubuhku dan aku merasakan kematianku sendiri. Aku menepis semua pikiran dan kenangan itu. Kali ini aku tidak boleh lemah. Aku tidak akan runtuh. Aku menatapnya balik tanpa takut. Tidak ada rasa cinta yang tersisa. Tidak ada kelemahan dalam diriku menghadapinya.
Tapi,aku melihat sesuatu di matanya. Aku melihat tatapannya berbeda kepadaku. Seperti… ada ketertarikan. Ah, jadi dia juga memperhatikan. Sangat lucu. Di kehidupan sebelumnya… dia bahkan tidak benar-benar melihatku.
“Karina, sini,” suara ayahku memanggil.
Aku berjalan mendekat. Duduk di kursi yang telah disiapkan tepat di depan Gio. Jarak kami hanya beberapa meter namun rasanya seperti dunia yang berbeda.
“Ini adalah Gio Abraham,” kata ayahku.
Aku tersenyum sopan seperti orang asing yang memang belum pernah mengenalnya sebelumnya.
“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Abraham,” sapaku.
Hening. Semua orang terdiam.
Karena, itu bukan reaksi yang seharusnya. Di kehidupan sebelumnya aku tersipu, gugup, bahkan hampir tidak bisa bicara. Sekarang, aku memperlakukannya seperti orang asing.
“Senang bertemu dengan Anda juga, Nona Holmes,” jawabnya akhirnya.
Nada suaranya datar, namun matanya tidak lepas dariku. Dia terus mengamatiku dan menilai.
'Kau ingin mencari sesuatu dariku? SIlahkan. Cari sebanyak yang kamu mau. Kali ini kamu tidak akan menemukan wanita yang sama.'
----
Percakapan berjalan dengan lancar. Orang tuaku membicarakan tentang bisnis, kerja sama dan juga masa depan keluarga kami nanti. Aku hampir tidak mendengarkan perbincangan itu. Fokusku hanya satu, yaitu waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya.
Akhirnya…
kesempatan itu datang.
“Bagaimana menurutmu, Karina?” tanya ayahku tiba-tiba.
Semua mata tertuju padaku termasuk Gio. Ini dia. Momen yang sama. Momen di mana di kehidupan sebelumnya aku mengangguk dengan hati berdebar karena cinta dan harapan bahagia bersama pria itu yang akhirnya mengikat diriku sendiri… pada kehancuran.
Aku tersenyum pelan dan tenang.
“Saya menolak," jawabku.
Semua orang terdiam. Suasana meja makan sunyi total. Tidak ada suara, tidak ada gerakan seolah dunia berhenti.
“Apa maksudmu?” suara ayahku terdengar tidak percaya.
Aku menatapnya. Lalu perlahan mengulang.
“Saya menolak pernikahan ini.”