BAB 1 — PENGAKUAN TERAKHIR
Hujan turun deras malam itu. Butirannya menghantam jendela kaca mansion besar itu tanpa ampun, seperti sesuatu yang berusaha masuk, menghancurkan, memaksa kebenaran keluar namun di dalam, yang hancur justru aku.
Aku, Karina Holmes adalah Istri sah dari Gio Abraham. Wanita yang selama lima tahun. mencintai pria yang tidak pernah mencintainya kembali. Aku berdiri di tengah ruang tamu yang luas, dingin, dan mewah. Terlalu mewah untuk sesuatu yang tidak pernah terasa seperti rumah.
Tanganku gemetar, bukan karena dingin. Melainkan karena rasa sakit yang menjalar dari dalam tubuhku. Sakitnya perlahan dan menyiksa. Seperti ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Aku terbatuk. Setetes darah jatuh ke lantai marmer putih. Aku menatapnya kosong. Warna Merah pekat yang indah dan terasa mematikan.
Aneh, akhir-akhir ini aku sering batuk seperti ini. Aku sering merasa pusing, lemas dan merasa tubuhku bukan mililkku lagi. Aku pikir itu hanya karena kelelahan, karena terlalu berusaha menjadi istri yang sempurna. Namun sekarang sepertinya aku sudah mulai mengerti.
Langkah kaki terdengar dari belakangku. Suaranya tenang, berirama dan tidak tergesa. Aku tidak perlu menoleh karena aku hafal betul pemilik langkah kaki itu. Satu-satunya pria yang bisa membuat jantungku berdebar, sekaligus hancur dalam waktu yang bersamaan.
“Masih belum mati?”
Suara itu dingin, datar dan tanpa emosi seperti biasa.
Aku menutup mata sejenak. Menahan sesuatu yang ingin pecah di dalam dadaku. Lalu perlahan, aku berbalik dan di sanalah dia, Gio Abraham suamiku. Pria yang kucintai selama lima tahun sekaligus pria yang membunuhku. Tatapannya jatuh padaku. Tidak ada kekhawatiran dan penyesalan. Hanya ketidakpedulian yang begitu kejam.
“Kenapa…?” suaraku serak.
Dia mengangkat alis sedikit.
“Kenapa apa?”
“Kenapa harus aku,Gio? Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?" Tanyaku.
Aku melangkah mendekat. Tubuhku goyah, tapi aku memaksakan diri tetap berdiri.
“Aku tidak pernah menyakitimu… aku tidak pernah melawanmu…” bisikku.
Air mata mulai mengaburkan pandanganku.
“Aku mencintaimu dengan tulus.”
Sunyi, hanya suara hujan yang semakin deras.Seolah dunia di luar sana berusaha menenggelamkan pengakuanku. Gio menghela napas pelan seperti seseorang yang bosan.
“Karena kamu yang paling mudah.”
Aku terdiam. Kata-kata itu terasa seperti pukulan yang tidak terlihat.
“...mudah?” ulangku lirih.
“Kamu mencintaiku seperti orang bodoh,” lanjutnya. “Tanpa curiga dan pernah bertanya apapun,” jawabnya.
Tatapannya dingin, menusuk.
“Seseorang seperti kamu… paling mudah digunakan.”
Jantungku seperti diremas. Aku ingin menyangkal. Ingin berteriak, namun tidak ada suara yang keluar.
“Jadi…” aku menelan ludah, “semua ini, hanya sandiwara? Kau hanya menjadikanku sebagai alat penyiksaan?”
“Pernikahan kita?” suaraku hampir pecah.
Dia tidak menjawab dan itu… sudah cukup.
Dunia runtuh, perlahan tanpa suara.
Aku tertawa. Kali ini lebih keras dan terdengar menyedihkan.
“Luar biasa…” bisikku. “Aku benar-benar… bodoh. Pantas saja selama ini aku merasa aku hanya mencintai sendirian.”
Tubuhku kembali terbatuk hebat. Darah kali ini lebih banyak menetes dari bibirku kemudian mengalir ke dagu, ke leher sampai ke gaun putih yang dulu kupakai di hari pernikahan kami.
Simbol cinta yang sekarang berubah menjadi… kain kematian. Aku menatapnya. Aku melihat kebenaran yang selama ini kusembunyikan dari diriku sendiri.
“Kamu…” suaraku bergetar, “meracuniku, ya?”
Hening. Aku menghitung waktu keheningan itu untuk menunggu jawaban darinya.
Satu detik, dua detik... “Baru sadar?”
Jawaban itu datang begitu ringan. Seolah dia hanya membicarakan sesuatu yang sepele. Ini bukan pembunuhan, melainkan ini memang sudah takdirku. Hatiku berhenti.
Jadi semua rasa sakit ini, semua kelemahan, semua hari-hari di mana aku hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur bukan karena fisikku melemah dengan sendirinya. Melainkan dia yang membuatku seperti ini.
“Aku…” napasku tersengal, “aku pikir aku sakit…”
“Kamu memang sakit,” potongnya datar. “Hanya saja… penyebabnya aku.”
Air mata jatuh tanpa bisa kutahan, lucu.
Aku mencintainya begitu dalam, sampai bahkan saat dia membunuhku pun aku masih ingin memahaminya.
“Kenapa…?” tanyaku lagi.
Kali ini lebih pelan, lebih hancur.
“Karena kamu adalah cara terbaik untuk menghancurkan keluargamu,” jawabnya.
Aku membeku.
Keluargaku…?
Ah, jadi ini tentang itu. Tentang masa lalu.Tentang dendam yang tidak pernah benar-benar kumengerti. Sekarang aku adalah Pion dalam permainan itu.
Aku tertawa pelan. Semakin lama… semakin tidak bisa berhenti.
“Jadi selama ini… aku hanya alat balas dendam mu?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
Tapi diamnya, lebih kejam dari kata-kata apapun.
Tubuhku mulai kehilangan kekuatan. Aku terhuyung, namun kali ini aku tidak mencoba bertahan. Tidak ada lagi alasan untuk berdiri. Tidak ada lagi yang perlu kupertahankan.
Aku menatapnya. Menghafal wajah itu. Ini akan jadi yang terakhir.
“Gio…” panggilku pelan. Ia tetap diam. Namun matanya masih padaku dan itu sudah cukup.
“Sampai nafas terakhir ku, aku masih mencintaimu.”
Suasana masih sunyi, namun kalimat itu akhirnya keluar. Setelah lima tahun. Setelah semua rasa sakit.
“Aku mencintaimu…” aku mengulanginya, “bahkan saat kamu mengabaikanku.”
“Bahkan saat kamu menghancurkanku.”
“Bahkan saat kamu…” aku tersenyum pahit, “…meracuniku perlahan.”
Air mataku jatuh, mungkin ini terlihat memalukan karena aku masih mencintai orang yang sudah meracuniku., tapi Ini perasaanku dan aku berhak mengatakannya.
“Aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku,” lanjutku pelan.
“Tapi aku tetap bertahan di sisimu sampai hari ini.”
Gio diam, seperti biasa. Tidak ada perubahan ekspresi maupun emosi dan entah kenapa itu lebih menyakitkan dari kematian itu sendiri.
“Kalau waktu bisa diulang…” aku menarik napas, meski terasa seperti pisau, “aku tetap akan mencintaimu.”
Dan di detik itu dia tertawa, pelan dan dingin seolah meledekku.
“Dan aku tetap tidak akan pernah mencintaimu. Kau hanya gadis lemah yang bodoh dan naif. Aku tidak pernah menyukai gadis sepertimu.”
Hening. Segalanya terasa berhenti, namun anehnya, aku tidak menangis lagi. Mungkin karena tidak ada lagi yang tersisa untuk hancur. Tubuhku akhirnya jatuh ke lantai. Rasanya dingin dengan sakit yang bertubi-tubi. Tapi anehnya hatiku terasa ringan. Mungkin karena aku sudah mengatakan semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa.
Pandanganku mulai gelap. Suara hujan perlahan menghilang, namun sebelum semuanya benar-benar berakhir satu pikiran muncul dalam benakku.
Jika…
jika aku diberi kesempatan lagi, aku tidak akan mencintainya seperti ini. Aku tidak akan menjadi wanita bodoh yang menghancurkan dirinya sendiri.
Aku tidak akan…