Mata Leroy langsung terbuka setelah mendengar perkataan Evelyn tentang itu. Zia awalnya bingung tapi melihat rahang Leroy mengetat membuatnya curiga jika ada sesuatu yang lainnya. Tanpa melepas pandangannya pada Zia, Leroy memutuskan sambungan telfonnya dengan Evelyn. Tak hanya itu, ponselnya juga dimatikan lalu dibuangnya asal.
"Kenapa tak meladeninya? Dan apa tadi? Menjaga? Dia bukan anak kecil yang harus kau jaga!" ejek Zia.
Leroy tersenyum tipis, melihat reaksi Zia yang kesal membuatnya gemas dengan istrinya itu.
Leroy menarik tengkuk Zia dan kembali melumat bibir gadis itu. Zia memukul d**a Leroy tapi Leroy semakin menekan ciumannya. Kali ini dia menerobos masuk ke dalam mulut Zia, mengobrak Abrik semua isinya.
Leroy yang merasa Zia kehabisan napasnya akhirnya melepaskannya. Dia menyatukan keningnya dengan kening Zia. Kedua napas mereka memburu, dia melihat Zia yang tengah memejamkan matanya.
Lalu perlahan turun dari atas Zia dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Zia menurut, dia tak memberontak karena memang hari ini sudah cukup melelahkan untuknya. Beberapa pekerjaan yang tertunda karena urusan pernikahan harus dia kejar dalam waktu beberapa hari ini.
"Aku tak sengaja membuat ibunya meninggal."
Mata Zia langsung terbuka ketika mendengar perkataan Leroy.
" Ibu, meninggal?"
Zia masih bingung karena dalam informasi yang dia dapatkan Evelyn masih mempunyai orang tua yang lengkap. Bahkan masih hidup sampai hari ini. Tapi Zia memilih untuk diam tak menyela. Dia merasa ada yang aneh, dan sialnya, Zia merasa jika Leroy benar benar bodoh.
"Maksudnya bagaimana?"
Zia bertanya dengan pura pura bodoh.
Saat ini dia ingin tahu cerita versi Leroy, bukan versi dimana dia sudah mengetahui semuanya.
"Waktu itu aku mengunjungi Evelyn di kontrakannya, dan karena hujan deras aku tertahan disana. Saat sedang berdua disana, Alvaro aku minta untuk membeli beberapa kebutuhan kontrakan Evelyn. Dan ibunya tiba tiba datang ketika Evelyn yang tiba tiba memelukku. Lalu dia terkena serangan jantung. Dan meninggal disana, sebelum menghembuskan napas terakhir dia berpesan padaku untuk menjaga Evelyn."
Dada Zia tiba tiba penuh sesak membayangkan Leroy dulu sempat memeluk Evelyn.
"Kau pernah tidur dengan nya?" tanya Zia tiba tiba.
Leroy langsung melepas pelukannya pada Zia, dan berpindah ke atas tubuh Zia lagi.
Dia memindai wajah Zia yang ekspresinya berubah. Ada raut wajah kesakitan disana setelah terlontar pertanyaan itu.
Leroy tersenyum tipis, dia mengusap pipi Zia yang sedikit chuby dan menurut Leroy itu lucu.
"Aku tak pernah menyentuhnya, bahkan ciuman pertama ku denganmu. Dulu aku begitu menjaganya karena aku takut menyakitinya. Tapi dengan aku menjaganya itu tak cukup untuknya. Aku laki laki normal, aku juga tertarik dan ada kalanya aku ingin melakukannya. Tapi entah kenapa ketika dengannya aku tak pernah tertarik. Selama bersama dengan nya dia selalu menurut padaku, berbeda dengan mu. Dari pertama kali bertemu, mulutmu itu tak pernah berkata lembut kepadaku."
Leroy mengatakan semua itu blak blakan tapi ibu jarinya mengusap bibir Zia yang bengkak karena ulahnya tadi.
Zia tak melihat kebohongan disana, tapi ada sorot terluka.
Melihat Zia yang hanya diam, Leroy lagi lagi hanya mengusap pipi Zia lembut.
"Aku tak minta kau langsung percaya. Pernikahan kita terlalu dipaksakan. Dan sejak pertama aku sudah menyakitimu."
Zia kembali terdiam, banyak sekali yang dia tak mengerti dari sisi Leroy.
Zia mendorong Leroy agar mereka bangun dari posisinya. Zia menimang banyak hal untuk membahas ini. Terlebih pernikahan mereka sudah terjadi. Zia juga tak mau merebut milik orang lain. Tapi banyak hal memang harus seperti itu.
Zia mengambil napas panjang, memejamkan matanya sesaat lalu membukanya perlahan.
Dia bangkit dari ranjangnya, mengambil sesuatu di dalam lemari miliknya. Lalu menyerahkan sesuatu itu pada Leroy.
"Apa ini?"
"Kau bisa membacanya nanti, tapi aku hanya ingin jujur padamu satu kali."
Leroy melihat Zia dengan tatapan tak mengerti. Seperti Zia sedang menyembunyikan sebuah rahasia yang tak pernah di ketahui oleh orang banyak.
"Aku menikah karena orang tua ku percaya kalau kau bisa membahagiakan ku, menjagaku, melindungi ku. Meskipun aku tahu kau tak mencintai ku sama sekali karena ada wanita itu. Tapi jika aku boleh jujur, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Entah bagaimana aku menjalaninya. Tapi aku ingin seperti mommy dan Daddy yang bisa menikah sampai sejauh ini. Dan masalah kau dengan Evelyn aku tak akan ikut campur. Perihal dia yang di ancam orang tuamu aku tak akan langsung percaya. Aku kenal orang tuamu yang bersahabat dengan mommy dan Daddy ku."
Setelah mengatakan itu Zia masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak ingin menunggu jawaban Leroy kepadanya. Tangan Leroy yang ingin mencegah Zia pun hanya menggantung di udara.
Leroy yang penasaran dengan map yang diberikan Zia langsung membukanya.
Mata Leroy membola ketika melihat isi di dalam amplop itu. Semua kehidupan Evelyn ada disana lengkap dengan siapa saja dia bertemu dan kemana saja.
Tangan Leroy mencengkeram kuat lembaran kertas yang berisi semua informasi tentang Evelyn.
Dia lalu melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.
"Dia menyelediki semuanya? Pantas saja papa bilang jika Zia tak akan sembarangan menerima pernikahan ini jika dia belum mencari tahu semua informasi tentang orang orang terdekatku. Bahkan Alvaro, astaga!"
Leroy mengusap wajahnya kasar. Dia lalu menyalakan ponselnya untuk menghubungi Alvaro.
Saat ponselnya menyala, semua spam chat dari Evelyn masuk ke dalam, bahkan tak lama panggilan telfon juga masuk ke dalam ponselnya.
Tapi Leroy tak menggubris hal itu.
Dia menghubungi Alvaro.
"Al, selidiki kehidupan Evelyn lebih lanjut, dan perihal kematian wanita itu yang mengaku sebagai ibunya!"
Baik tuan, adalagi?
"Awasi semua yang Evelyn lakukan, dan juga besok pagi antarkan ponsel dan nomer yang baru ke rumah mertuaku!"
Setelah menelfon Alvaro, Leroy segera mematikan kembali ponselnya. Dia menatap nanar ke depan. Hampir berapa tahun dia bersama Evelyn tapi dia memutuskan untuk tak mencari tahu semua kehidupan Evelyn dan percaya begitu saja. Tapi pada kenyataannya, Evelyn membohonginya sampai titik terdalamnya.
Zia yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Leroy yang terus melamun.
"Pergilah mandi, aku siapkan baju tidurmu. Kebetulan Mommy memang sudah membelikan yang sepasang."
Leroy menoleh ke arah Zia, dia melihat Zia sedang mengambil pakaian untuknya.
Greb.....
Zia sempat terkejut dengan pelukan Leroy kali ini. Dia ingin melepaskan pelukannya tapi Leroy memeluknya lebih erat dari pada sebelumnya.
"Mandi, kenapa malah memelukku?" omel Zia.
Zia berusaha sebisa mungkin untuk tak terlihat gugup.
"Jangan galak galak sayang."
to be continued