Bab 10

1006 Kata
Zia dan Leroy sudah berada di kamar Zia. Zia sedang fokus menghapus sisa make up nya tapi sesekali dia melihat Leroy yang sejak masuk ke kamarnya terus menunduk tanpa mengatakan apapun. Zia bangkit berdiri untuk membersihkan dirinya. Dia melewati Leroy begitu saja tanpa mengatakan apa apa. "Zia, bisa kita bicara sebentar? Maksud ku ada yang perlu kita obrolin." Zia yang sedang mengambil piyama tidurnya berhenti lalu berbalik menatap Leroy yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya. "Katakan, kau ingin bicara apa? Jika ingin membicarakan masalah kekasihmu, aku tak punya tenaga lagi. Kau bisa melakukan apapun dengan nya asal tak sampai bocor ke media." Mata Leroy membola mendengar itu. Sedangkan Zia berjalan ke arah kamar mandi seperti tanpa beban. Leroy melangkah cepat, memeluk Zia dari belakang yang membuat tubuh Zia menegang. "Maafkan aku, maaf untuk semua kata kata ku yang tadi kau dengar di kantor papa. Aku memang masih mencintainya sampai saat kita menikah kemarin.Tapi ada hal hal yang harus aku bereskan sebelum benar benar bisa menjalani rumah tangga ini dengan baik tanpa ada yang mengganggunya." Zia mengerutkan keningnya bingung. Kenapa tiba tiba Leroy mengatakan itu? Zia melepaskan pelukan Leroy lalu berbalik ke arah Leroy. Memegang kening Leroy yang membuat Leroy mengerutkan keningnya. Dia menggenggam tangan Zia yang ada di keningnya. "Kau sedang apa?" tanya Leroy bingung. "Badanmu tak panas, kenapa bicara melantur?" Leroy berdecak kesal karena Zia menganggap lelucon semua perkataannya tadi. Mata Zia membelalak ketika tiba tiba Leroy mengangkat tubuhnya dan membawanya duduk di pinggir ranjang. "Leroy, apa yang kau lakukan, turunkan aku!!" Pekik Zia tertahan. Meskipun kamarnya kedap suara tapi dia tak mungkin berteriak disana. "Zia, diam. Kau berisik, bisakah kita bicara serius. Kau teriak seolah aku sedang memperkosa mu!" Mata Zia melotot, dia yang kesal mencubit pinggang Leroy. Leroy sedikit meringis karena apa yang di lakukan Zia kepadanya. "Sayang sakit...." Tangan Zia langsung berhenti, dan menatap Leroy takut. Dia bergidik ngeri mendengar Leroy memanggilnya seperti itu. Leroy menghembuskan napasnya panjang, dia menatap Zia serius yang membuat Zia berkedip lucu. "Katakan, apa yang membuat kau berubah? Kekasihmu itu membuat kesalahan atau apa?" "Kau tahu?" Mata Leroy menyipit curiga pada Zia yang membuat Zia berdecak kesal. "Kenapa kau tiba tiba menjadi menyebalkan seperti ini. Kenapa aku harus tahu bagaimana kekasihmu itu, tak penting buat ku. Tak menghasilkan uang juga untukku." Leroy menganga, Zia sudah kaya dan sekarang dia bersikap seolah dia juga membutuhkan banyak uang. Leroy kembali memeluk Zia. Tapi kali ini di ikuti dengan hembusan napas yang panjang. "Apa dia tahu sesuatu tentang wanita itu? Jika iya, siapa yang berani memberitahunya?" batin Zia. Zia menunggu sampai beberapa menit berlalu, tapi Leroy tak juga mengatakan apapun padanya. Zia mulai bosan karena badannya sudah sangat lengket, dia ingin segera istirahat saat ini. Tapi melihat suami nya malah bersikap seperti ini membuatnya tak bisa langsung Istirahat. "Aku mau mandi, turunkan aku!" "Aku mau seperti ini, kau istriku jadi kau harus menurut padaku." sahut Leroy cepat. "Kau gila, kau ini kenapa? Lalu kenapa kau ingin menyelesaikan hubungan mu dengan wanita itu? Bukannya kau mencintainya?" Leroy mengurai pelukannya, lalu menatap wajah teduh Zia. "Iya dan aku masih mencintainya, tapi dia tak pernah mencintai ku. Dia hanya terobsesi dengan hartaku. Pantas aku tak pernah merasakan apapun saat bersamanya." Zia mendengarkan semuanya tanpa menyela. Leroy merogoh ponselnya lalu memberikannya pada Zia. Meminta Zia untuk melihat semua pesan singkat dari anonim yang masuk ke dalam ponsel Leroy. Mata Zia menyipit mengingat punya siapa nomer itu. "Ulah Natalie ternyata, usil sekali dia. Tapi ada bagusnya juga." batin Zia. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau cinta sama dia tapi kau juga terluka? Dan ya, kau seperti remaja sedang putus cinta saat ini!" ejek Zia. Leroy menghela napasnya panjang, dia lalu menurunkan Zia dari atas pangkuannya. Sementara dia berjalan ke dekat jendela, melihat keluar. Dimana hari sudah mulai beranjak malam. "Zia, jika aku bisa melepaskan dia apa kau bersedia menjalani pernikahan ini bersamaku tanpa ada kata pisah? Apa kau bisa menjaga pernikahan ini tanpa ada orang ketiga dan yang lainnya?" Zia terdiam, dia bahkan tak yakin jika dia bisa menjadi istri yang baik untuk Leroy mengingat mereka menikah buka karena dasar cinta. Dan pernikahan itu tak akan bisa kuat. "Apa kau pikir dia akan semudah itu melepaskan mu dan membiarkanmu menjalani pernikahan ini dengan baik?" Leroy masih melihat ke arah luar tanpa mau berbalik ke arah Zia sang istri. Zia bukan takut jika harus berurusan dengan Evelyn tapi dia hanya ingin hidup tenang menjalani perannya sebagai istri untuk Leroy. "Dan dia akan melihat Leroy Eliano Mahasura yang sesungguhnya!" Zia sedikit bergidik ngeri mendengar jawaban Leroy. Nada bicara nya berbeda, auranya berbeda. "Kenapa tiba tiba auranya berbeda? Sebelumnya dia terlihat lembek sekali. Dan apa ini?" batin Zia. Sesaat terjadi keheningan dikamar itu, tapi beberapa saat setelahnya terdengar ponsel Leroy berbunyi. Zia melihat ponsel Leroy, disana ada nama Evelyn dengan Id "My Love". Leroy mendekat, lalu meraih ponsel nya yang berada di tangan Zia tapi tatapan Leroy masih terus tertuju pada Zia. Zia benar benar merasakan perubahan Leroy saat ini. Leroy menekan tombol penjawab, tapi juga meloudspeker ponsel itu agar Zia juga bisa mendengarnya. Zia menaikkan sebelah alisnya melihat yang dilakukan Leroy saat ini. "Leroy, kau kemana? Kenapa tadi tiba tiba pergi? Aku masih sakit dan kau tak ada tanya keadaanku seperti apa sekarang. Kau berubah semenjak menikah sama dia. Kau bilang kau tak cinta sama dia, kenapa kau malah berubah? Kau sudah tak menginginkan aku lagi?" Zia menggigit bibir bawahnya yang mendengar suara Evelyn yang lembut dan mendayu. Leroy melihat itu semua, sorot mata Zia yang kesal karena Evelyn terus mengoceh bahkan mengatakan jika Leroy tak mencintai dia. Mata Zia membola ketika Leroy melumat bibir nya. Bahkan tak menggubris panggilan Evelyn saat ini. Suara decapan dari bibir Leroy dan Zia mulai terdengar. "Buka mulutmu sayang." pinta Leroy dengan suara seraknya tapi masih bisa di dengar oleh Evelyn. Zia menurut meskipun itu menyakitinya karena Leroy menggunakan dirinya untuk membuat Evelyn mengamuk. "Leroy, apa yang sedang kau lakukan? Leroy, kau tak mungkin melakukan denganya, Leroy kau jahat. Kau sudah berjanji pada ibuku untuk menjagaku!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN