Leroy sudah tiba di kediaman mertuanya. Dia langsung diijinkan masuk ke dalam oleh para penjaga.
Arion yang memang sudah berada di rumah mengerutkan keningnya ketika Leroy tiba tiba berkunjung kesana.
"Dad, apa aku mengganggu waktu istirahat Daddy?"
Arion mempersilahkan Leroy duduk di dekatnya.
"Kenapa tiba tiba kau kemari? Dan apa yang terjadi dengan wajahmu itu?"
Leroy yang mendapat pertanyaan yang tiba tiba menyentuh pipinya yang masih terlihat memar. Pukulan Dirgantara tak pernah main main.
"Dad, aku......"
Leroy masih ragu untuk minta maaf kepada Arion.
Arion masih menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Leroy, meskipun dia sudah tahu dari Dirgantara. Tapi dia sendiri yang ingin mendengar semua dari Leroy sendiri. Jika Leroy tak menginginkan putrinya dia akan langsung meminta Leroy untuk menceraikan Zia. Semua kesalahan ada pada para orang tua yang memaksakan pernikahan itu. Meskipun niat mereka baik tapi belum tentu terbaik untuk anak anak mereka.
Arion bersikap tenang meskipun dalam hatinya sudah bergemuruh ingin menghajar Leroy yang tak bisa menjaga dirinya. Beruntung Zia terbiasa menghadapi semua berita di sekitar hidupnya karena pekerjaannya juga akan sering muncul hal hal seperti itu.
"Dad, aku ingin minta maaf untuk rumor yang baru saja terjadi. Itu kesalahan ku, harusnya aku tak bertemu dengan Evelyn lagi setelah aku menikah dengan Zia."
Arion masih menatap datar ke arah Leroy.
Leroy yang biasanya bersikap dingin kepada semua orang rasanya menciut ketika berhadapan langsung dengan mertuanya seperti ini. Aura Arion tak main main, untuk itulah Leroy seperti terintimidasi dengan itu.
"Kalau sejak awal kau tak menginginkan pernikahan ini, kenapa kau menyetujuinya? Kau bisa menolaknya, putriku bukan robot yang tak punya hati."
Leroy menahan napas ketika suara Arion mulai menggelegar disana.
"Aku awalnya terpaksa dad, Evelyn mengatakan jika dia di ancam orang tua ku. Kalau aku tak mau menikah dengan Zia, papa akan menghabisi Evelyn."
Arion berdecih, dia merasa Leroy benar benar bodoh. Dan salahnya kenapa dia bisa memilih Leroy menjadi menantunya.
"Siapa sebenarnya yang menunjukmu sebagai seorang CEO? Aku rasa kau tak pantas menduduki jabatan itu Leroy."
Leroy yang sebelumnya menunduk langsung mengangkat wajahnya. Melihat ke arah Arion dengan wajah tak terima. Tapi Arion mengangkay dagunya lebih tinggi dari Leroy karena semua pemikirannya benar.
"Kau bahkan tak bisa menilai sesuatu yang ada di sekitarmu. Apa kau pikir orang tua mu akan mengurusi hal receh seperti itu? Memaksamu menikah dan jika kau menolak, mereka akan membunuh kekasih kecilmu itu? Apa kau pikir orang tua mu akan mengotori tangannya hanya untuk hal kecil Leroy?"
Leroy terdiam, selama ini Dirgantara dan Dara sudah tahu hubungannya dengan Evelyn selama beberapa tahun. Tapi tiba tiba mereka menjodohkannya dengan Zia. Leroy seperti orang bodoh yang tak berpikir jauh tentang hal sepele seperti ini.
"Bahkan ujung rambut putriku tak akan bisa dibandingkan dengan wanitamu itu!"
Arion kali ini terus menerus menyerang Leroy dengan semua fakta yang ada.
"Aku tak pernah merendahkan seseorang hanya karena status, tapi melihat putriku yang tak dihargai suaminya tentu saja akh tak terima. Apalagi harus bersaing dengan wanita yang tak akan pernah sebanding dengan nya dalam hal apapun. Jadi jangan salahkan aku jika mulutku menjadi jahat."
Alvaro yang sejak tadi berdiri di belakang tuannya pun hanya terdiam. Dia tak bisa membela tuannya sama sekali. Faktanya apa yang dikatakan oleh Arion benar.
Leroy tak bisa berpikir dengan jernih ketika sedang emosi.
"Jadi maksud Daddy, papa dan mama punya alasan sendiri ketika tiba tiba mereka tak menyukai Evelyn?"
Leroy yang kepalang tanggung di anggap bodoh malah bertanya hal receh seperti itu pada Arion.
Arion yang mendengar nya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku dan orang tua mu bersahabat sejak lama. Apa kau merasa kami adalah orang tua yang kolot? Semua orang bisa mengatakan pernikahan mu dan Zia adalah pernikahan bisnis. Nyatanya orang tuamu hanya ingin menyelamatkan mu dari wanita itu."
Leroy terdiam, semua kata kata Arion lebih masuk akal. Jika dipikir selama bersama Evelyn dia sudah banyak menutup mata dan telinganya. Banyak kesalahan Evelyn yang harus dia tutupi agar Evelyn tetap terlihat sempurna di depan semua orang.
"Dad, aku akan mencari tahu sendiri. Beri aku waktu untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Jika dalam waktu yang Daddy berikan aku tak bisa menemukan jawabannya, aku yang akan mengembalikan Zia kepada Daddy secara baik baik. Karena aku bukan suami yang tepat untuknya. Tapi aku akan tetap berusaha untuk menjadi suami yang baik. Bagiku menikah sekali seumur hidupku meskipun aku belum mencintai putri Daddy."
Arion menatap Leroy dengan wajah biasa. Dalam mata Leroy ada kesungguhan dan kejujuran tapi dia tak akan percaya begitu saja sebelum semuanya terbukti.
"Kau sudah dengar sendiri bukan Zia? Jika suamimu ini tak bisa menepati janjinya, kau bisa kembali pada Daddy."
Arion mengatakan itu tanpa melihat ke arah Leroy, melainkan memiringkan kepala nya untuk melihat sang putri yang berdiri tak jauh dari mereka.
Arion tentu saja tahu jika Zia ada disana sejak tadi. Mendengarkan semua percakapan nya dengan Leroy.
Seketika dia langsung berbalik dan benar saja dia melihat Zia masuk ke dalam rumah dengan wajah tenangnya.
"Dad, tak perlu memaksanya. Aku tak ingin ribut, aku sudah cukup lelah dengan semua pekerjaanku." keluh Zia.
Leroy menatap istrinya itu dengan tatapan sulit dimengerti. Tapi lagi lagi Zia mengabaikannya yang ada disana.
"Istirahat dan ajak suamimu ke kamar mu. Alvaro bisa tidur dikamar tamu."
Leroy sempat kaget mendengar itu, sebelum dia menyahut Zia sudah lebih dulu patuh dengan kata kata Arion.
Zia pergi dari sana tanpa mengajak Leroy, tapi Arion menyuruh Leroy untuk menyusul Zia menyelesaikan masalah mereka. Arion bukan orang tua yang kejam yang akan menyuruh putrinya bercerai hanya karena masalah seperti ini.
"Al, kenapa tuan muda mu itu bisa jadi bodoh hanya karena wanita tak tahu diri itu?"
to be continued