Sementara itu, diluar aula pesta, Evelyn di seret pergi oleh para pengawal.
"Jangan pernah muncul di depan keluarga kami lagi terutama di depan Leroy. Jika kau masih ingin bekerja di perusahaan jaga batasanmu antara karyawan juga atasan!"
Setelah mengusir Evelyn dari sana, semua orang pergi meninggalkan Evelyn sendirian. Berbarengan dengan itu, hujan sangat deras turun. Evelyn melihat ke atas dimana ada kamar Leroy juga Zia disana.
"Awas kalian!"
Evelyn pergi membawa luka juga dendamnya karena Leroy kekasihnya malah menikah dengan Zia seorang model terkenal yang juga berasal dari kalangan atas.
Sementara itu di kamar pengantin, Leroy masih menatap Zia dengan tatapan tajamnya.
"Aku tak memancing apa apa, tapi kau yang bersikeras untuk mengobati ku. Dari pada kau terus memaki dan mengajakku bertengkar lebih baik kau pergi saja susul kekasihmu itu. Mungkin dia sedang meratapi nasibnya karena melihatmu menikah dengan perempuan lain!"
Perkataan Zia semakin membuat Leroy membenci Zia. Sedangkan Zia tak pernah takut dengan Leroy yang sedang menahan marah kepadanya. Zia dan juga Leroy sama sama terjebak dalam pernikahan bisnis. Jika bukan karena menuruti mommy nya, Zia tak akan mau menikah dengan laki laki di depannya ini. Zia sudah mencari tahu semua info tentang Leroy. Termasuk wanita yang menjadi kekasih Leroy. Berbeda dengan Leroy yang tak ingin tahu apapun karena dia sudah mencintai Evelyn kekasihnya.
Leroy melihat jika Zia semakin menantangnya. Dia menarik kaki Zia sampai Zia berada di depannya. Mata Zia melotot ketika Leroy mengungkung tubuhnya.
Zia tak leluasa bergerak karena gaun pengantin yang masih dikenakannya.
Leroy meraih dagu Zia, lalu menekannya kuat. Tapi bukan Zia namanya jika dia takut dengan Leroy. Dari awal dia sudah bersiap dengan segala kemungkinan terburuknya. Siapa yang tak kenal dengan Leroy Eliano Mahasura. Laki laki yang terkenal arogan juga dingin dengan siapapun. Dia hanya akan bersikap lembut kepada Evelyn kekasihnya. Semua sikapnya sudah di kenal di semua kalangan pebisnis. Pernikahan mereka yang tiba tiba menjadi gosip panas. Banyak spekulasi atas bergabungnya dua kerajaan bisnis itu.
"Jaga mulutmu Zia, biar bagaimana pun aku suamimu!"
Zia menepis tangan Leroy yang sudah menyakiti dagunya.
"Buat apa aku menjaga mulutku? Sedang kan kau sendiri juga tak menjaga sikapmu. Apa kau pikir aku senang menikah seperti ini. Menikah dengan laki laki yang masih mencintai wanita lain. Kau pikir hanya kau yang mempunyai kekasih. Aku juga punya, bahkan dia lebih segalanya dari....mpphhh......"
Mata Zia membola tatkala Leroy menciumnya. Tak hanya ciuman biasa, tapi ciuman yang sedikit lebih kasar.
Zia mencoba memukul d**a bidang Leroy, tapi Leroy langsung menahan kedua tangan Zia. Ciuman itu terus berlanjut sampai Leroy mendorong tubuh Zia.
Ciuman Leroy semakin menuntut. Dan Leroy sadar dengan apa yang dia lakukan saat ini. Meskipun sadar, nyatanya dia tak bisa berhenti.
Tok tok
Mata Leroy yang semula tertutup langsung terbuka, seketika ciuman itu langsung berhenti. Mereka saling tatap dengan napas yang memburu.
"Tuan muda, nyonya muda. Saya mengantarkan makan malam untuk kalian!"
Leroy bangkit dari atas tubuh Zia tanpa mengatakan apa apa. Dia membuka pintu kamar hotel dan terlihat karyawan hotel mengantarkan makanan untuk Zia juga Leroy.
Zia yang melihat Leroy sibuk di depan pintu langsung pergi ke kamar mandi dengan perasaan yang dongkol.
Bagaimana tidak, ciuman pertamanya di ambil oleh Leroy begitu saja.
"Sialan, berani sekali dia berbuat kasar seperti itu. Mana itu ciuman pertamaku!"
Leroy yang tak sengaja mendengar gerutuan Zia dari dalam kamar mandi tersenyum samar. Entah kenapa dia bangga jika dirinya lah yang pertama menikmati bibir milik Zia.
Pintu kamar yang tak tertutup sempurna itu membuat Leroy bisa mendengar semua makian Zia kepadanya.
Di dalam kamar mandi, Zia sendiri sedang kesusahan melepaskan gaun pengantinnya.
"Uh, kenapa mommy senang sekali memilihkan gaun yang seperti ini." keluh Zia.
Tangannya tak sampai untuk meraih resleting dan pengait di punggungnya. Sampai sebuah tangan membantunya.
Mata Zia membola ketika tak sengaja jari Leroy menyentuh punggung nya yang sudah polos.
Leroy sempat terkejut, dia lalu melihat ke depan dan sialnya Zia juga tengah melihatnya dalam.
Hawa di kamar mandi itu tiba tiba berubah menjadi panas. Jantung Zia berdegup dengan kencang. Kedua tangannya menangkup erat gaun depannya agar tak sampai melorot ke bawah.
Leroy berkali kali meneguk ludahnya kasar. Bagaimana pun dia laki laki normal. Apalagi saat ini mereka juga sepasang suami istri yang sah. Leroy tak mengelak jika Zia lebih cantik dan sexi dari pada Evelyn.
Leroy kalah dengan hasratnya, perlahan dia maju mendekati Zia yang membuat Zia semakin gugup.
Zia tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Pandangan Leroy yang mulai di liputi kabut gairah semakin membuat Leroy ingin menyentuh apa yang sudah sah menjadi miliknya.
Cup...
Zia memejamkan matanya cepat ketika Leroy mencium pundak putihnya yang polos. Tubuhnya seperti terkena aliran listrik yang dahsyat. Mata Leroy terus melihat ekspresi Zia dari pantulan kaca di depannya.
Perlahan ciuman itu merambah ke arah leher jenjang Zia.
Leroy hanya sebatas tahu jika Zia adalah seorang model terkenal. Untuk itulah tubuhnya selalu terjaga. Tapi fokusnya tertuju pada dua benda yang sejak tadi menyembul di balik gaun pengantin milik istrinya itu.
Perlahan kedua tangan Leroy melingkar di pinggang ramping Zia. Pertengkaran mereka sejak tadi kalah dengan gairah yang mulai menguasai keduanya. Seketika tak ada bayangan Evelyn dalam otak Leroy.
Perlahan ciuman itu merambat naik ke atas, ke telinga Zia, dan berakhir pada bibir Zia.
Ciuman yang masih terasa kaku membuat Leroy sedikit memberi tempo yang lambat.
"Dia mengatakan jika dia mempunyai kekasih, tapi kenapa dia masih kaku dalam berciuman?" batin Leroy.
Leroy sendiri masih penasaran dengan ciuman Zia. Tapi dering ponsel milik Leroy lagi lagi mengganggu aktifitas mereka.
Leroy meriah ponselnya yang ada di saku celananya tanpa melepaskan bibir Zia. Sementara Zia sudah sadar dengan apa yang terjadi. Dia berusaha mendorong tubuh Leroy, tapi Leroy menahan pinggangnya dan masih melanjutkan ciumannya pada Zia.
Tuan muda maaf mengganggu, tapi aku cuma mau memberi informasi jika nona Evelyn sedang demam karena kehujanan. Dan pelayan di apartemennya mengatakan jika dia terus memanggil nama tuan.
Mata Leroy yang semula terpejam langsung terbuka. Zia yang memang juga mendengar suara itu langsung memalingkan wajahnya.
Sadar jika suasananya berbeda, Leroy memilih keluar dari dalam kamar mandi.
Melihat kepergian Leroy, Zia meremas dadanya kuat.
"Aku seperti seorang jalang saat ini!"
to be continued