Bab 3

1010 Kata
Leroy berjalan keluar kamar pengantin. Dia sudah bersiap pergi menemui Evelyn yang ternyata dilarikan ke rumah sakit. Saat berada di lorong hotel yang menghubungkan dengan lobi hotel, dia berpapasan dengan beberapa orang yang terlihat sedang bercengkerama. "Pernikahan yang tadi di gelar benar benar bikin kaget." "Benar, Zia kan sedang naik daun. Tiba tiba saja dia menikah tanpa mengumumkan sebelumnya." "Dan lagi, suaminya itu kan terkenal kemana mana sering bersama asistennya." Leroy yang sedang berjalan sambil menunduk karena fokus dengan ponselnya pun berhenti. Entah kenapa dia malah penasaran dengan percakapan tiga orang perempuan itu. "Kalau dilihat kasihan Zia. Dia masih muda sekali untuk menikah dengan suaminya tadi." "Kau benar, selain itu apa dia tak sakit menikahi laki laki yang jelas masih cinta sama perempuan lain? Kalau aku jadi dia mendingan langsung minta cerai." Hanya sampai disitu Leroy mendengarkan percakapan tadi. Karena mereka sudah menghilang dibalik dinding. Leroy sempat terpaku di tempatnya. Mengingat apa yang dia lakukan pada Zia tadi yang tak hanya sekali tapi dua kali. Leroy mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa dia memilih kembali berbalik menuju kamarnya. Dia mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu mengirimkannya pada Alvaro asistennya. ( Minta orang mengurus Evelyn, aku tak bisa kesana. Jika ketahuan akan menimbulkan banyak masalah ) Langkah Leroy membawanya masuk ke dalam kamarnya. Dan saat dia tiba disana, ternyata lampu kamarnya sudah gelap. Hanya terlihat penerangan di samping seseorang yang sedang meringkuk di atas ranjang. Leroy terpaku pada wanita yang baru saja menjadi istrinya itu. Dia mengingat apa yang dia lakukan tadi tanpa memikirkan perasaan istrinya itu. Mau bagaimana pun Zia tak bersalah. Dia juga korban sama seperti dirinya. Leroy menghela napas panjang lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian tidurnya. Tak lama dia perlahan naik ke ranjang dengan pelan takut jika dia membangunkan Zia yang terlihat pulas. Entah dorongan dari mana, tangah Leroy terulur ke bawah leher Zia dan membalik tubuh Zia menghadap ke arahnya. Tak lama, Zia masuk ke dalam pelukannya. Leroy sempat melihat wajah Zia lalu mengernyitkan keningnya saat melihat bekas air mata disana. "Dia menangis? Apa karena aku tiba tiba meninggalkannya tadi?" batin Leroy. Leroy menyugar rambut nya ke belakang merasa bersalah. Dia berpikir jika Zia pasti terluka seperti perkataan beberapa wanita tadi. "Apa dia menganggap dirinya murahan karena tiba tiba aku pergi begitu saja? Oh, Leroy, kau benar benar berengsek kali ini. Terlebih kau tahu jika istrimu ini baru saja berciuman, dan kau merebut ciuman pertamanya!" Tiba tiba saja, Leroy merasa menyesal telah memperlakukan Zia seperti itu. Meskipun dia marah dengan pernikahannya tapi dia tak pernah memperlakukan wanita serendah itu. Seperti pada Evelyn, dia tak pernah menyentuhnya sama sekali. Mereka hanya beberapa kali bergandengan tangan. Dan hari ini, bukan hanya Zia saja yang kehilangan ciuman pertamanya. Tapi Leroy juga, tapi entah kenapa Leroy seperti tertarik terus menerus untuk mendekat ke arah Zia. Dia sedikit menyingkirkan anak rambut Zia yang menutupi wajahnya dan itu sedikit mengusik tidur Zia. Tubuh Leroy mendadak kaku saat Zia bergerak dan malah memeluk pinggang Leroy tanpa sadar. "Astaga Leroy, kau cari mati sendiri. Jika posisinya seperti ini, apa kau akan bisa tidur dengan nyenyak?" Leroy memukul kepalanya sendiri, menyesali apa yang dia lakukan malah menyusahkan dirinya sendiri. # Sementara itu, Evelyn yang berada di rumah sakit berkali kali melihat ke arah pintu berharap Leroy datang kesana seperti biasanya. Leroy selalu datang jam berapa pun itu saat Evelyn membutuhkan sesuatu. Tapi setelah hampir satu jam lamanya, tak terlihat batang hidung Leroy muncul. Berbarengan dengan itu, terdengar suara petir yang menyambar. Evelyn yang tahu jika Leroy tak akan datang meremas selimut yang dia kenakan dengan erat. "Zia, kau benar benar menguji kesabaran ku!" Alvaro yang saat itu ingin masuk ke dalam pun terkejut melihat perubahan wajah Evelyn. Wajah lemah lembut Evelyn yang biasa terlihat hilang saat ini karena marah dengan Leroy. "Apa mungkin wajah aslinya seperti ini?" Alvaro mengurungkan niat untuk masuk ke dalam. Dia meminta seorang perawat untuk mengantarkan makanan yang di minta oleh Leroy untuk Evelyn. Mata Alvaro membola ketika melihat wajah Evelyn kembali seperti sedia kala lemah lembut dan memasang senyum manisnya. "Benar dugaanku. Selama ini banyak sekali karyawan yang lain yang sudah memberitahu jika Evelyn seperti itu. Tapi karena tak pernah melihatnya langsung jadi aku tak percaya." batin Alvaro. Alvaro memilih meninggalkan rumah sakit dan meminta orang lain untuk menjaga Evelyn. Dia sepertinya tak ingin terlibat secara jauh dengan Evelyn. # Keesokan paginya, Zia bangun terlebih dahulu. Tapi dia merasa aneh ketika tubuhnya terasa berat. Dan saat dia meraba raba, matanya langsung terbuka sempurna. Zia ingin berteriak karena tiba tiba melihat Leroy ada disana. Dia langsung menutup mulutnya agar tak membangunkan Leroy yang seperti nya sedang tidur dengan nyenyak. "Kenapa dia tiba tiba ada disini? Bukannya semalam dia pergi menemui wanita itu?" gumam Zia. Zia masih melihat Leroy yang sedang menutup matanya dengan napas yang teratur. Sejak pertemuan pertama itu, baru kali ini Zia benar benar memperhatikan wajah Leroy. Hingga beberapa menit berlalu, Zia masih betah dengan apa yang dia lakukan. Puk.... Zia memukul kepalanya pelan ketika sadar dengan apa yang sudah terjadi. "Kenapa malah harus melihatnya tidur? Lebih baik aku segera mandi dan pergi. Aku ada pemotretan hari ini." Zia ingin beranjak turun dari ranjang tapi tangannya tertahan oleh sesuatu. Zia berbalik lalu matanya membola ketika melihat Leroy yang sudah bangun sambil menatap ke arahnya. "Kau sudah bangun?" "Sejak saat kau terus menatapku tanpa berkedip. Apa kau mengagumi ketampanan ku?" goda Leroy. Zia memutar bola matanya malas mendengar perkataan Leroy yang sedikot narsis. "Tentu saja kau tampan karena kau laki laki. Jika kau perempuan artinya kau itu cantik!" jawab Zia ketus. Dia sudah ingin pergi ke kamar mandi tapi tangan Leroy masih menahannya di atas ranjang. Leroy yang kesal dengan jawaban Zia lalu menarik tangan Zia sampai Zia kembali berbaring. Leroy langsung pindah ke atas tubuh Zia. Mengungkung Zia tanpa Zia bisa melepaskan diri. Zia yang kesal terus memberontak. Dia ingat semalam yang dilakukan oleh Leroy kepadanya. "Lepaskan aku!" "Apa yang kau inginkan?" Zia berusaha untuk berani dan membalas tatapan Leroy kepadanya. "Aku tak ijinkan kau bekerja kembali. Semua yang kau perlukan, aku yang akan tanggung jawab!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN